"Tak perlu berlebihan. Yang pertengahan saja. Yang sederhana saja"

Selasa, 09 Agustus 2016

Pemasaran Strategik yang Bikin Baper

Agustus 09, 2016 Posted by Salam Fadillah Alzah No comments
Sekali lagi saya ucapkan selamat atas pernikahan saudara-fillah kami, Akh Adipati Jayadi dan Ukh Khaerunnisa Hasyim. Barokallahu laka, wa baaroka 'alaika wa jama'a baynakumaa fiy khair. Semoga Allah memberkahi kalian, semoga berkah atas kalian, semoga kalian dikumpulkan kedalam kebaikan.

Saya turut sangat berbahagia dengan pernikahan saudara kami, dan sukses baper beberapa hari ini. Sedih juga karena tidak bisa hadir dipernikahannya. Baper sukses bertambah ketika malamnya dikirimi pesan bbm yang isinya hanya "ehm". Ayolah, tidak ada deskripsi lebih lanjut apa maksudnya?

Supaya tidak terbawa perasaan kalah dan mengusir pikiran dan pertanyaan "Tuhan, saya kapan?" yang berhamburan di kepala, buku menjadi pelarian terbaik. Buku adalah benda mati terbaik yang kamu miliki walau sering diabaikan. Buku Pemasaran Strategik sepertinya cukup membuat pikiran lepas dari keter-baper-an.

Tapi semuanya berubah ketika masuk pada pembahasan Hukum Kekekalan Marketing di subbab Hukum Kepemimpinan yang isinya:

"Lebih baik menjadi yang pertama daripada menjadi yang lebih baik."

Alam bawah sadar bukan menuntun saya untuk berpikir bagaimana sebuah produk bisa mencuri perhatian konsumen pasar dengan menjadi yang pertama, tapi menuntun saya berpikir "kenapa bukan saya yang pertama? Untuk apa menjadi lebih baik jika bukan yang pertama?" Point of view benar-benar menjadi inti dari tulisan. #HentikanKejabeanMuAnakMuda #AnakMudaAntiJabe

Oke, mari kita lupakan. Semakin menjadi-jadi ketika masuk Hukum Ingatan atau Pikiran:

"Lebih baik menjadi yang pertama dalam ingatan, daripada yang pertama dalam gerai penjualan."

Silakan tafsirkan sendiri.

Entah kenapa, buku Pemasaran Strategik pun bisa membuat saya bawa perasaan. Kata teman saya, "Katanya, ada dua jenis orang yang tidak bisa dinasehati; seseorang yang lapar, dan yang sedang jatuh hati."

Jakarta Selatan, 9 Agustus 2016


~Alza Maligana

Sabtu, 06 Agustus 2016

Antara Kesultanan Buton, Bone, dan Gowa-Tallo (3)

Agustus 06, 2016 Posted by Salam Fadillah Alzah No comments
Kenapa Arung Palakka menyerang Gowa? Apakah Arung Palakka La Tenritatta memang seorang pengkhianat?

Jika memang berkhianat, La Tenritatta berkhianat kepada siapa?

Dari literatur dan cerita turun temurun, Arung Palakka telah lelah hatinya melihat perbudakan yang dilakukan Kerajaan Gowa terhadap Soppeng dan Bone. Penentangan ini telah ada sejak beberapa generasi sebelumnya. Hanya saja, Bone dan Soppeng tidak memiliki kekuatan yang kuat untuk menentang Gowa. Tak hanya rakyat biasa, bangsawan pun menjadi budak yang dipekerjakan untuk membuat parit dan benteng.

Arung Palakka pun mencari koalisi, diyakinkannya Kerajaan Soppeng, tanah kelahiran ayahandanya, dan daerah sekitarnya dengan visi yang sama, "Selamatkan Bangsawan, Hentikan Perbudakan !"

Angin segar pun bersambut, membelai pelan panasnya kepala kompeni yang sudah pusing setengah hidup ingin menjatuhkan Gowa. Kompeni sudah melancarkan berbagai jenis cara, termasuk mempermainkan harga pasar dan mengendalikan perniagaan dari Maluku. Hasilnya sama, NIHIL ! Gowa tak kunjung melemah. Mengapa? Somba Opu menjadi lokasi perniagaan yang benar-benar mempengaruhi nusantara dan sekitarnya, ditambah lagi Kerajaan Gowa menggunakan prinsip pasar bebas di Somba Opu.

Bergabunglah Arung Palakka bersama kompeni. Penyerangan berlangsung sengit sampai akhirnya Gowa harus mengakui kekalahannya dan lahirlah Perjanjian Bongaya. Kemenangan Arung Palakka selanjutnya mempengaruhi peta politik kerajaan lain semisal Maluku, Ternate, Buton, Trunojoyo, Bima, hingga ke Minangkabau.

~Alza Maligana
__________

Sumber:
1) www.timur-angin.com
2) Silsilah Kekerabatan Raja-raja Sulawesi Selatan dan Barat

Sumber foto: www.adindut.com

Ada yang Datang, Ada yang Pergi

Agustus 06, 2016 Posted by Salam Fadillah Alzah No comments
Beberapa teman sering mengeluh karena harus berpisah dengan keluarga atau sahabatnya karena sesuatu dan lain hal, misalnya karena tuntutan kerja diluar daerah atau karena kesibukan masing-masing. “Aku rindu sama bapak, ibu, nenek, kucing dirumah, kecoak yang biasa berkeliaran didapur, semuanya!”, “Udah gak ada si Fulan, jadi sepi”, atau “Semua udah gak seperti dulu, udah beda, gak ada yang bisa seperti dia.” Tidak salah, hanya rindu berlebihan itu terlalu menyakitkan.

Saya bukan Mario Teguh, bahkan Mario Teguh tidak mengenal saya, tapi sebagai teman saya akan merespon positif dan memberikan saran yang baik (walau kadang sedikit mainstream). Jawaban yang sering saya ulang-ulang adalah:

“Tenang saja, kalau ada yang pergi, berarti akan ada yang datang. InsyaAllah. Keluarga atau sahabat-sahabat kita yang lalu berpisah dengan alasan yang baik, suatu saat Allah akan gantikan dengan yang semisal atau lebih baik, asal kita yang mau membuka diri dan ingin menjadi lebih baik juga.”


Kadang kita terlalu terpaku di masa lalu, kemudian takut melangkah. Kaki begitu beratnya melangkah, apalagi hati. Percayalah, ketika kaki melangkah dan hati rela meninggalkan keluarga atau sahabat di tanah kelahiran demi kebaikan, maka Allah akan berikan orang-orang yang semisal mereka kasih sayang dan perhatiannya.

Foto ini ketika wisuda Tahsinul Qiroah Angkatan 2010. Mereka yang ada di foto adalah salah satu pemberian terbaik yang Allah kasih. Ketika saya harus meninggalkan keluarga dan sahabat-sahabat di Baubau, Allah kirim mereka satu per satu untuk mendampingi. Apa mereka sempurna? Tidak, mereka tidak sempurna, tapi kita terikat di wadah dan tujuan yang sama. Ada kekurangan dan kelebihan. Ada yang tawadhu tapi mahal senyum, semangat belajar tapi kaku, semangat membantu dakwah tapi malas belajar, sangat beragam jenisnya, sampai mengaku-ngaku tampan pun ada. Jangan tanya saya siapa orangnya, mungkin nanti akan muncul sendiri di kolom komentar.

Mereka adalah “keluarga” tapi bukan keluarga. Keluarga yang terikat karena millah (agama), bukan karena darah. Yang ada di foto hanya beberapa, masih ada sosok-sosok lain yang sangat membantu. Semoga Allah merahmati dan menjaga mereka.

_________


Dua hari lagi akhuna Adipati, salah satu sahabat saya (yang masih rela dijadikan rival) akan menikah. Tolong jangan tanya saya kapan. Mudah-mudahan urusannya lancar hingga hari H. Katanya harus fokus dan tenang, urusan kantor lepas dulu, nanti ijab kabulnya yang disebut malah kwh meter, bukan nama mempelai wanita. Apalagi sampai nyebut “SAH!” padahal belum ngulangin kata-kata wali nikah.


Barokallahu fiykum.

Jakarta Selatan, 6 Agustus 2016


~AiM

Selasa, 02 Agustus 2016

Antara Kesultanan Buton, Bone, dan Gowa-Tallo (2)

Agustus 02, 2016 Posted by Salam Fadillah Alzah , , , , , , No comments
Ini tentang harga diri & tanggung jawabnya sebagai pemimpin rakyatnya lepas dari penindasan. Berangkatlah La Tenritatta ke tanah leluhurnya, bersama para pembesar yg bergelar Andi Bau & pengikutnya, mencari suaka utk tetap bertahan hidup di Kesultanan Buton. Konon, salah satu versi cerita asal muasal kata Baubau diambil dari kata Andi Bau, gelar bangsawan Bone yg mendiami wilayah luar Benteng Wolio.

Arung Palakka kagum melihat benteng yang brdiri megah, lebih megah & kokoh dari Fort Rotterdam Kerajaan Gowa.

Pertahanan yg terdiri dr “Matana Sorumba”, “Batara”, Benteng Wolio, hingga masjid cukup kuat untuk membendung berbagai jenis serangan dari luar. Berdiamlah Sang Raja Bone di dalam wilayah kesultanan hingga 3 tahun lamanya.

Kenapa Kesultanan Buton harus melindungi Arung Palakka?

Yusran Darmawan bertutur;

“Bagi masyarakat Buton, Arung Palakka bukanlah org lain. Silsilah yang disimpan banyak warga setempat menyebutkan dirinya adalah seorang saudara yg sedekat urat leher. Disini, ia lebih dikenal sbg La Tondu, keturunan langsung La Kabaura yg merupakan satu dari empat anak La Maindo, Raja Batauga. Dr garis keturunan La Kabaura, terdapat nama Sabandara i Bone, yg kemudian menurunkan La Tenritatta atau Arung Palakka.”

Beliau menuturkan, diambil dari budayawan lokal La Ode Syarif Makmun bahwa La Kabaura atau Andi Bauru datang ke Bone tahun 1582 sebagai duta utusan Sultan Buton Murhum Kaimuddin yang diminta oleh Raja Bone La Tendari Bongkangnge. Dalam kunjungan itu, La Kabaura menikah dengan Putri Raja Bone La Tendari Bongkangnge yang bernama Wetendari Siang dan dari pernikahan tersebut lahirlah La Pottobune’ Arung Tana Tengnga yang menjadi Raja Soppeng. Selanjutnya La Pottobune’ menikah dengan Putri Sultan Adam Matinro’e Bantaeng yang bernama Wetenri Sui (Suri), dan lahirlah Arung Palakka."

Memberi suaka bukan berarti tanpa resiko. Ketika Kerajaan Gowa tahu Arung Palakka berada di Buton, dikirimlah Bontomarannu beserta ribuan pasukan untuk menyerang. Pecahlah peperangan. Sayangnya, Gowa yg sedang dalam kondisi lemah tak mampu memenangkan peperangan.

~Alza Maligana

------------
Sumber:
1) www.timur-angin.com
2) "Silsilah Kekerabatan Raja-raja Sulawesi Selatan dan Barat" oleh Rasyid Al Ab

Merantau

Agustus 02, 2016 Posted by Salam Fadillah Alzah No comments
Petang di Jatipadang ini selalu sama; macet dan bising. Katanya, "Ibu Kota lebih kejam dari Ibu Tiri." Lalu kenapa menetap hingga lebih setahun?

Pertanyaan dasarnya; Kenapa harus keluar daerah? Sederhana; karena pikiran akan lebih terbuka, walaupun ego masa muda selalu membentak. Culture-shock pun menjadi bumbu menarik disetiap perjalanan. Sebenarnya jika bisa, ingin hati membawa badan merantau lebih jauh dari ini.

Salah seorang ulama tabi'in ditanya oleh muridnya, "Kenapa kamu bisa mendapatkan ilmu dan pemahaman yang kuat seperti sekarang?", beliau rahimahullah menjawab, "Karena aku (merantau) keluar dari daerahku."

Ibunda Imam Syafi'i harus rela meninggalkan Gaza menuju Madinah, mengantarkan sang anak belajar pada muara ilmu, Sang Imam Hadits Madinah, Imam Malik ibn Anas rahimahullah.

Ketika besar, Imam Syafii kembali merantau diberbagai daerah, seperti Baghdad dan Mesir.

Di Baghdad ia bersama Imam Ahmad, di Mesir ia bertemu murid-murid Imam Laits ibn Saad yg buku-bukunya memberi pengaruh besar pada pemahaman Imam Syafii yang mampu menengahi Ahlu Ra'y murid-murid Imam Abu Hanifah dan Ahlu Hadits murid-murid Imam Malik ibn Anas -rahimahumullah- yang terus menerus bertikai.


Bagaimana jika tak punya daya keluar daerah?

Manfaatkan sumber daya sekitar semaksimal mungkin. Imam Ibnu Hazm adalah seorang ulama yang tidak keluar dari Andalusia. Hidupnya berputar-putar didalam wilayah Andalusia karena faktor politik yang tak menentu.

Lalu, merantau atau tidak? Dua-duanya pilihan. Apa artinya merantau jika tak menjadi lebih baik? Rugi! Apa artinya menetap jika tak ada perubahan? Pailit!

Masing-masing punya tantangan. Tak hidup di tanah kelahiran tak selalu menyusahkan, hidup di tempat awal membuka mata pun tak selalu mengasyikkan. Masing-masing dengan kelebihan dan kekurangan.

Semuanya kembali kepada diri masing-masing; ingin berubah atau menjadi ikan mati yang mengikuti arus.


Jakarta Selatan, 2 Agustus 2016


~Alza Maligana