"Tak perlu berlebihan. Yang pertengahan saja. Yang sederhana saja"

Jumat, 20 Agustus 2021

Administrasi dan Manajemen? Apa Bedanya? (2)

Agustus 20, 2021 Posted by Salam Fadillah Alzah , , , , No comments

Administrasi dan manajemen adalah dua bidang yang sama, tapi berbeda. Loh, bagaimana maksudnya? Saya telah menjelaskan sebelumnya mengenai perbedaan antara administrasi dan manajemen dari definisinya, silakan baca Administrasi dan Manajemen? Apa Bedanya? (1). Untuk melihat lebih dalam, kita dapat melihat administrasi dan manajemen dari ruang lingkup dan sejarahnya di masa lalu, kecuali sejarahmu bersama mantan(?). Oliver Wendell Holmes Jr. mengatakan:

“Jika ingin mengerti atau mencoba menentukan apa yang akan terjadi dihari esok, maka perlu melihat ke belakang. (Hal tersebut) Penting untuk setiap siswa (pelajar) yang ingin mempelajari administrasi…”

Oliver Wendell Holmes Jr

Sumber: wikipedia.org

Sejarahlah yang mampu memberikan gambaran kepada kita mengenai perubahan-perubahan yang terjadi pada suatu pengetahuan. Sejarah juga yang menjelaskan dengan gamblang mengenai latar belakang bagaimana pengetahuan tersebut berkembang hingga saat ini dan menjadi sesuatu yang terus digali dan dikembangkan sehingga menjadi alat yang membantu manusia mengembangkan peradaban yang lebih maju, seperti Peter F Drucker, “Change or Die”, atau kata Clayton Christensen, “Disrupting or Disrupted.”

Pengetahuan yang "Tidak Terlihat"

Para ahli mengatakan bahwa manajemen dan administrasi itu sudah ada sejak zaman dahulu kala. Namun, manajemen dan administrasi pada zaman dulu lebih condong kepada praktik-praktik sehingga disebut sebagai seni, bukan sebagai ilmu. Maksud dari seni disini adalah hal tersebut dapat ditunjukkan dalam bentuk tindakan atau hasil dari tindakan tersebut. Walaupun demikian, seni tetaplah disebut sebagai pengetahuan, lebih tepatnya disebut tacit knowledge atau pengetahuan yang tidak terlihat (Baca: Learning Organization di Organisasi Dakwah Kampus).

Pengetahuan tidak terlihat tersebut selanjutnya membutuhkan proses, waktu, dan pengujian yang berulang agar memenuhi syarat sebagai teori. Ketika pengetahuan tersebut telah memiliki teori sendiri, pengetahuan tersebut berubah statusnya menjadi ilmu. Perlu diingat dengan baik bahwa kebenaran teori tidak bersifat mutlak. Itulah alasan mengapa teori tidak dapat diterapkan dalam semua kondisi. Bingung? Sabar, pelan-pelan saja, sama seperti prosesmu pedekate ke dia, jangan buru-buru. Tapi jangan kelamaan, nanti dilamar orang lain. Ada baiknya baca dulu tulisan saya sebelumnya Gak Usah Banyak Teori! supaya lebih paham pembahasan bagaimana sebuah pengetahuan yang dimulai dari asumsi berubah menjadi teori.

Candi Borobudur

Sumber: javatravel.net


Kembali ke ranah manajemen dan administrasi, kita dapat melihat peninggalan sejarah megah, seperti Piramida Mesir, Tembok China, Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan monumen lainnya sebagai bentuk penerapan manajemen dan administrasi. Oleh karena itu, Simon memberi penegasan bahwa ketika dua orang atau lebih bekerja sama untuk tujuan tertentu, maka ia disebut manajamen atau administrasi.

Namun, pada masa itu manajemen dan administrasi sebatas pengetahuan yang tidak terlihat. Pada saat itu administrasi dan manajemen tidak dapat dijelaskan secara sistematis. Pengetahuan tidak terlihat manajemen dan administrasi ini kemudian mulai tersusun secara sistematis perlahan-lahan oleh para ahli dan cendikiawan, seperti Adam Smith, Machiavelli, Robert Owen, Charles Babbage, dan lain-lain.

Embrio Teori yang Mulai Terbentuk

Robert Owen adalah salah satu orang penting yang mengilhami cendikiawan dan pebisnis pada zamannya hingga sekarang sehingga ilmu manajemen dan administrasi lahir. Dialah orang menyarankan agar jam kerja yang semula 13 jam per hari diubah menjadi 10,5 jam per hari, dan menyarankan agar para pekerja dikumpulkan dalam satu rumah agar pekerjaan menjadi lebih cepat. Bayangkan bagaimana lelahnya bekerja 13 jam sehari? Selain itu, ia juga tidak mau menerima pekerja anak dibawah umur, dimana pekerja dibawah umur sangat banyak ditemukan saat itu. Owen telah berpikir jauh ke depan dari zamannya.

Adam Smith

Sumber: wikipedia.org

Contoh lain adalah Adam Smith yang menyarankan pembagian kerja, dimana pengerjaan satu produk akan dipecah dalam beberapa tahap dengan spesialisasi kerja tertentu. Sebuah peniti lebih efisien dikerjakan oleh 5 orang dengan tahap-tahap tertentu, daripada 5 orang tersebut masing-masing mengerjakan 1 peniti. Contoh praktiknya seperti manufaktur yang membagi setiap jenis pekerjaan pada stasiun kerja, seperti pengolahan bahan mentah ke bahan jadi, lalu masuk ke bagian quality control. Produk yang lolos quality control akan masuk proses pengemasan hingga siap untuk didistribusi ke pasar. Mengapa harus dibuat stasiun kerja seperti itu? Tujuannya agar pekerjaan terspesialisasi dengan baik sehingga pekerjaan menjadi lebih efektif dan efisien. Para ahli dan cendikiawan zaman dulu sudah mulai merangkai manajemen dan administrasi sejak zaman dulu, tetapi tetap saja ia belum membuat administrasi dan manajemen menjadi sebuah ilmu.

Embrio yang Melahirkan Bayi Teori

Revolusi industri di awal abad 20 benar-benar mengubah wajah dunia. Pekerjaan yang awalnya dikerjakan oleh manusia secara manual perlahan digantikan oleh mesin-mesin sehingga jumlah pengangguran menukik dengan tajam. Pada saat itulah manajemen ilmiah lahir dari rahim pemikiran Frederick Winslow Taylor.

Taylor adalah orang yang merumuskan manajemen ilmiah sekitar tahun 1874 pada saat ia menjadi ahli mesin setelah ia keluar dari Universitas Harvard karena masalah pada matanya. Manajemen ilmiah sendiri mulai dikenal di tahun 1910 ketika ia menciptakan revolusi baru dunia manajemen. Ada 4 poin penting yang disebutkan Taylor dalam publikasinya “Principle Scientific of Management”, yaitu:

  1. Petunjuk praktis yang digunakan oleh para pekerja untuk menggantikan metode lama;
  2. Para pekerja diseleksi, dilatih, dididik, dan dikembangkan secara ilmiah. Sebelum manajemen ilmiah, para pekerja mempelajari jenis pekerjaannya secara otodidak sehingga pekerjaan tidak terstandardisasi;
  3. Kerja sama yang sungguh-sungguh antara supervisor dan sesama karyawan untuk menerapkan prosedur kerja yang ilmiah yang telah dikembangkan sebelumnya;
  4. Pembagian kerja yang proporsional antara para manajer dan pekerja.

Dari publikasi dan praktek yang dikemukakan Taylor terlihat bahwa beliau sangat fokus kepada hal yang bersifat teknis. Unit analisis yang menjadi perhatian utama Taylor adalah para manajemen bawah dan para pekerja, seperti ilustrasi dibawah ini.

Unit Analisis Frederick Winslow Taylor

Sumber: Silalahi, gambar dimodifikasi

Taylor menjelaskan bahwa ada dua cara agar pekerjaan menjadi lebih baik dan efisien, yaitu menemukan cara yang paling baik untuk menyelesaikan suatu tugas dan menetapkan standar waktu untuk penyelesaian tugas tersebut. Taylor juga meyakini bahwa “uang” adalah penggerak utama seseorang untuk menjadi lebih produktif karena manusia akan selalu rasional, manusia rela melakukan sesuatu agar mendapatkan insentif yang lebih.

Manajemen ilmiah menjadi sangat terkenal karena keberhasilan Taylor menerapkan prinsip manajemen ilmiah di dunia industri. Walaupun demikian, ada beberapa ahli yang kemudian muncul menentang teori Manajemen Ilmiah Taylor karena menganggap manusia sebagai mesin yang diperah dan diperas tenaganya. Tetapi bagi para pekerja, ini seperti buah simalakama, “bekerja seperti mesin untuk bertahan hidup? Atau mempertahankan ego bahwa manusia haruslah diperlakukan sebagai manusia?”. Mengapa simalakama? Saat itu gelombang pengangguran sangat besar karena mesin-mesin menggantikan manusia. Tinggal memilih, bekerja dengan giat atau diganti dengan orang lain yang lebih giat dan bertenaga.

Konsep yang dibawa oleh Taylor yang sangat kapitalis ini diterima oleh khalayak umum, bahkan oleh seorang Lenin yang sosialis! Tapi tentu saja dimodifikasi oleh Lenin. Gerakan “malu-malu” antar ideologi ini bukan hanya saat ini saja, sudah ada sejak zaman dulu. Walaupun sangat materialis dan kapitalis, zaman itu hubungan antar manusia belumlah marak sampai akhirnya ramai dibahas oleh Elton Mayo, Roethlisberger, dan Whitehead dengan “Hawthorne Study” nya, mudah-mudahan dapat saya bahas di lain kesempatan.

Bayi Teori yang Terus Bergerak


Di zaman yang sama dengan Taylor muncul pula seorang insinyur pertambangan dan eksekutif dari Perancis, yakni Henri Fayol. Tahukah kamu kalau Henri Fayol lahir di Konstantinopel? Ia lahir pada 29 Juli 1841 di Konstantinopel, Kesultanan Turki Utsmani. Beliau wafat di Paris, Perancis, pada 19 November 1925. Jika Frederick Winslow Taylor disebut sebagai Bapak Manajemen Ilmiah, maka Henri Fayol adalah Bapak Ilmu Administrasi. Kalau kamu mahasiswa ilmu administrasi tidak tahu siapa Bapak Ilmu Administrasi, itu parah sih, kata Haji Rhoma Irama, “Sungguh terlaaluuu …

Henri Fayol
Sumber: http://centre-histoire.sciences-po.fr/archives/fonds/henri_fayol.html

Dahulu para peneliti menyebutkan bahwa para pemimpin organisasi itu dilahirkan, hanya orang tertentu saja yang lahir dengan bakat menjadi pemimpin. Untuk mematahkan pemikiran usang, Fayol menyusun empat belas prinsip administrasi karena Fayol yakin bahwa pemimpin itu dibentuk dan dilatih, bukan semata-mata dilahirkan.

Fayol mampu membawa proses manajemen menjadi lebih maju dan menyeluruh dibanding teori yang dikemukakan oleh Taylor. Ketika Taylor terfokus kepada level Low Management dan Para Pekerja, Fayol melihat organisasi secara menyeluruh. Fayol menjadi cendikiawan yang menyarankan adanya koordinasi melalui pertemuan rutin antar manajer, kepala departemen, dan para humas. Koordinasi menjadi kunci penting dalam organisasi karena koordinasi menjadi penyatu antar level manajemen dan manajer. Beliau pun kemudian menyatakan bahwa administrasi terbagi ke dalam beberapa bagian, yaitu:
  1. Teknikal, yakni kegiatan yang berhubungan dengan perihal produksi dan masalah teknikal;
  2. Aktivitas komersial, yakni meliputi aktivitas jual beli hasil produksi, termasuk pertukaran;
  3. Jaminan atau asuransi, yaitu berhubungan dengan perlindungan pegawai dan harta benda;
  4. Finansial, yaitu berhubungan dengan pencarian dan penggunaan modal secara optimum;
  5. Akuntansi, yaitu kegiatan yang berkaitan dengan membuat dan mencatat stok harga, laba rugi, neraca, dan statistik;
  6. Operasi Administrasi, yaitu kegiatan administratif (dalam arti sempit).
Pandangan-pandangan yang dikemukakan oleh Fayol menunjukkan bahwa unit analisis beliau pada level manajemen atas hingga manajemen bawah sehingga seorang administrator adalah penentu tujuan dan pembuat kebijakan seperti yang dijelaskan oleh Farland yang saya sebutkan di materi sebelumnya. Ilustrasi unit analisis manajemen dan administrasi terlihat pada gambar dibawah ini.

Unit Analisis Taylor dan Henri Fayol

Sumber: Silalahi, dimodifikasi

Walaupun unit analisis memperlihatkan administrasi terfokus pada level manajemen atas hingga bawah, Fayol tetap mengingatkan bahwa seorang administrator (pemimpin organisasi) tetaplah harus memahami hal yang bersifat teknikal. Bagaimana mungkin seorang pengambil keputusan dapat memahami konteks masalah secara menyeluruh jika tidak memahami hal yang teknis. Demikian pula dengan Taylor, walaupun sebagian mempertanyakan kekuatan teori Manajemen Ilmiah untuk semua lini manajemen, Taylor mampu membuktikan secara praktikal bahwa ia mampu menjadi pimpinan perusahaan, bahkan menjadi konsultan pertama dalam dunia manajemen bisnis.

Selain dilihat dari unit analisis manajemen dan administrasi diatas, kita juga dapat melihat administrasi secara jelas dari dimensinya. Pembahasan mengenai dimensi administrasi akan saya bahas dilain waktu. Materi ini dibaca dulu perlahan-lahan? Masih tidak mengerti? Tidak apa-apa, belajar itu harus sabar, mungkin belum bisa paham sekarang, tapi nanti. Nanti kalau dia udah bersama yang lain. 


Jakarta Utara, 20 Agustus 2021





~Alza
__________________________

Referensi:


Cftech.com "Frederick Taylor, Early Century Management Consultant". The Wall Street Journal. June 13, 1997. Archived from the original on May 14, 2008. Retrieved May 4, 2008

Golden Pryor, M. and Taneja, S. (2010), "Henri Fayol, practitioner and theoretician – revered and reviled", Journal of Management History, Vol. 16 No. 4, pp. 489-503. https://doi.org/10.1108/17511341011073960

Kitana, A. (2016). Overview of the managerial thoughts and theories from the history: Classical management theory to modern management theory. Indian Journal of Management Science6(1), 16.


Morgen Witzel. (2003). “Fifty Key Figures In Management/ Routledge, 2003. ISBN 0-415-36977, p.96


Pindur, W., Rogers, S. E., & Kim, P. S. (1995). The history of management: a global perspective. Journal of management history.

Prince, J. (1904). The Code of Hammurabi. The American Journal of Theology, 8(3), 601-609. Retrieved July 8, 2021, from http://www.jstor.org/stable/3153895

Robbins, Stephen P, dan Mary Coulter. (2010). Manajemen Jilid 2. Erlangga: Jakarta.

Silalahi, Ulbert. (1992). Studi tentang Ilmu Administrasi: Konsep, Teori, dan Dimensi. Sinar Baru Algesindo: Bandung.

Senin, 12 April 2021

Raga yang Jauh, Hati yang Mengeluh

April 12, 2021 Posted by Salam Fadillah Alzah No comments
Akhir-akhir ini lisanku pandai mengaduh pelan kepada jarak, sedangkan hatiku menggerutu tak karuan sebab matahari yang tunggal itu tak bersamaan ketika membelai rambutku disini dan mengusap pipimu disana. 

Lazimnya manusia berkata rindu ibarat tali yang melintang dari tiang hati yang satu ke tiang hati yang lain. Aku pun membenarkan, tali itu melintang jauh sampai ke hatimu, menjadi pengekang ketika raga mulai rusuh. Dahulu aku riuh, aku rindu tapi tak tahu kemanakah labuhnya. Sekarang aku tahu, rindu ini kamu tuannya. Kamu pemiliknya.

Aku cinta ukiran matamu, lengkap dengan sejuta sandinya. Semakin kesini aku mulai terbisa mengurainya. Dan aku percaya, berjauhan bukan berarti menjauh, berdekatan pun tak selamanya untuk mendekat.

Hidup laksana air yang terus mengalir mencari jalannya. Raga berjauhan dan rindu akan terus tertuang. Hati ini serupa gelas, jika sudah tak mampu menampung rindu yang berlebihan, akan ku perbesar gelasnya, biar tertampung semua.



Aku rindu dengan jari jemarimu. Jari lucu yang mengelus pelan ubunku, pandai nian dirimu membuatku bak balita lugu. Aku rindu aromamu. Aroma dengan sejuta bahasa tersirat. Kau tahu? Perpaduan mata, jari, dan aromamu adalah obat manjur untuk membungkam kesalahpahaman, mengunci liarnya ego. Tatap dan genggam saja tanganku, kepalaku akan menunduk, mataku akan meredup tenang, lidahku akan lupa apa itu retorika.

Terima kasih karena mengikatku, maafkan tiang hatiku yang sering melemah. Hidup dan rindu ini semacam air, setumpuk butir pertanyaan dengan bubuk-bubuk manis harapan, diaduk dengan usaha dan lembutnya doa, tercampur merata dalam gelas yang aku sebut hati.

Mungkin kita perlu lebih bersabar meracik dan menakarnya, agar tidak terlampau manis, pahit, atau tawar. Kita sepertinya mesti lebih berperasaan mengaduknya, agar gelasnya tidak pecah karena tekanan yang begitu kuat. Biarkan dan tunggu ampasnya berada di bawah dan jangan menggenang. Doamu aku butuh sebagai penenang.


Jakarta Timur, 12 April 2021



~Alza

Selasa, 18 Agustus 2020

Buton dan VOC: Awal Mula Persekutuan

Agustus 18, 2020 Posted by Salam Fadillah Alzah , , , , , No comments
Kongsi Dagang Hindia Timur atau yang lazim dikenal dengan nama Verenigde Oostindie Compagnie (VOC) adalah perusahaan besar yang terdiri dari gabungan enam perusahaan dagang Belanda.[1] VOC menjadi momok yang mengerikan jika kita membuka lembaran sejarah Indonesia yang dijajah selama 350 tahun. Literatur di Indonesia menggambarkan dengan panjang bahwa VOC dan Belanda adalah musuh besar nusantara atau Indonesia sehingga siapa saja yang menjadi sekutu VOC akan dicap sebagai musuh Indonesia juga.

Di Sulawesi, Kesultanan Gowa yang dipimpin Sultan Hasanuddin "Ayam Jantan dari Timur" hadir sebagai musuh tangguh VOC. Berkat perjuangan dan kegigihannya, Sultan Hasanuddin dinilai berhak mendapatkan gelar Pahlawan Nasional[2]. Masyarakat Makassar patut berbangga atas status tersebut. Benak masyarakat pun perlahan terbentuk bahwa Makassar (Gowa) adalah musuh VOC.

Sultan Hasanuddin
I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe

Sumber: biografiku.com

Di sisi Sulawesi yang lain, Kesultanan Buton tampil sebagai sekutu VOC. Buton dan VOC membentuk jalinan persahabatan sehingga sebagian orang memberikan predikat “Sekutu Abadi” kepada Buton dan VOC. Kesultanan Buton berbanding terbalik dengan Kesultanan Gowa dalam hal hubungan dengan VOC, walaupun sama-sama menjadikan Islam sebagai agama dan pondasi kenegaraan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai tasawuf, secara khusus Tarekat Sammaniyah[3][4] yang digagas oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Karim As-Samani Al-Hasani Al-Madani. 

Dengan kenyataan bahwa Kesultanan Buton adalah Sekutu VOC, apakah Kesultanan Buton secara otomatis menjadi pengkhianat? Menurut saya, pertanyaan ini tidak dapat dilihat dan dijawab benar atau salah. Ada banyak variabel yang menjadi alasan mengapa persekutuan Buton dan VOC tidak dapat dilihat hanya dari satu sisi saja. Kesultanan Buton sebagai salah satu wilayah yang berada di nusantara harus ditempatkan secara global dan berkaitan antara sejarah dari satu kerajaan dengan sejarah kerajaan lainnya, dimana sejarah Indonesia juga harus dilihat dalam rangkaian sejarah dunia pada umumnya[5].

***

Sebagai kerajaan dengan sistem pemerintahan sendiri, Buton tidak dapat terlepas dari interaksi dengan kerajaan sekitarnya. Buton dan kerajaan disekitarnya saling bergantung sehingga kondisi politik dan ekonomi masing-masing kerajaan pun tidak dapat dipisahkan dari bagaimana kualitas hubungan antar kerajaan.[6] Kerja sama antar kerajaan sekitar pun telah dibangun oleh Buton, diantaranya kerja sama dengan Gowa Tallo, Bone, dan Ternate, serta kerajaan lainnya yang ada disekitar wilayah Buton [7].

Jika Buton telah lama bekerja sama dalam berbagai hal dengan kerajaan sekitarnya, mengapa Buton pada akhirnya memilih VOC sebagai aliansinya? Mengapa tidak bersekutu dengan kerajaan tangguh disekitarnya, seperti Gowa dan Ternate? Ada dua faktor yang menjadi penyebab mengapa Buton memilih VOC dibanding Gowa dan Ternate, yakni faktor politik eksternal antara Gowa dan Ternate dan politik internal antar golongan Kaomu.

Faktor Eksternal: Terombang Ambing oleh Dua Kuasa

Walaupun telah lama bekerja sama dengan Gowa dan Ternate, hubungan Buton dengan kerajaan lain tidak selalu mulus, terutama dengan Gowa dan Ternate. Syekh Haji Abdul Ganiyu Kenepulu La Bula bertutur dalam Ajonga Yinda Malusa: [8]

Kaapaka karana tangko yindapo
(Sebab karena waktu belum ada)

Tee walanda ipiya malona yitu
(Dengan Belanda beberapa waktu lalu)

Adiaka timbu tajagani taranate
(Musim timur kita menjaga Ternate)

Tajagani Gowa tongkona adika bara
(Menjaga Gowa waktunya musim barat)

Potongan untaian syair dari Syekh Haji Abdul Ganiyu diatas memberikan gambaran kepada kita bahwa Kesultanan Buton berada dalam posisi yang kurang menguntungkan, dimana Kerajaan Gowa Tallo yang perkasa di barat dan Kerajaan Ternate yang adikuasa di timur tidak berhenti memberikan tekanan dan menunjukkan hegemoninya ke kerajaan-kerajaan sekitar.[9] Daerah-daerah jajahan Gowa Tallo dan Ternate semakin banyak, tapi Kesultanan Buton ingin merdeka dan tidak mau berada dibawah kendali kerajaan lain. Peperangan terus berlangsung antara Gowa dan Ternate hingga keduanya akhirnya berdamai dan membuat kesepakatan bahwa Selayar berada dibawah pengaruh Gowa dan Buton berada di bawah pengaruh Ternate.[10] 

Menghadapi realita tersebut jelas Buton menginginkan aliansi yang mengedepankan kesetaraan dan kemerdekaan, bukan sebagai jajahan. Namun, kepada siapakah Buton harus beraliansi? Siapa yang memiliki kekuatan dan sanggup menandingi kedua kerajaan tersebut?

Di sisi yang lain, VOC berlayar menuju timur mencari wilayah lain yang dapat mereka eksplorasi dan eksploitasi hasil alamnya. VOC harus rela berpindah dari Banten pascapengusiran yang menjadi memori kelam untuk mereka. Dalam perjalanannya, VOC kemudian melihat Buton sebagai wilayah yang sangat strategis dan potensial untuk diajak untuk bekerja sama. VOC perlahan hadir dengan kehati-hatian dan kekhawatiran akan mendapatkan penolakan yang sama seperti kerajaan-kerajaan lainnya.

Namun diluar perkiraan, VOC ternyata mendapatkan sambutan hangat dari Sultan Dayanu Ikhsanuddin La Elangi. Melihat peluang kerja sama,  Kesultanan Buton memutuskan untuk membentuk aliansi bersama VOC, dimana Buton diwakili oleh Sultan Dayanu Ikhsanuddin La Elangi (1578-1615) dan VOC diwakili oleh Apollonius Scotte[11], membuat perjanjian yang disebut dengan Janji Baana atau Perjanjian Pertama. Perjanjian Pertama ini kemudian dikukuhkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda I, Pieter Both, pada tahun 1613 ketika ia berkunjung ke Buton. Pieter Both menambahkan beberapa poin lagi sehingga perjanjian tersebut berubah menjadi Janji Ruaanguna atau Perjanjian Kedua.[12]

Pieter Both
Sumber: id.wikipedia.org

Hubungan antara Buton dan VOC yang terbentuk pada saat itu memberikan kekuatan kepada kedua belah pihak karena saling membantu dan melindungi, baik dari sisi politik maupun ekonomi. Secara khusus Sultan Dayanu Ikhsanuddin memperkuat posisinya sebagai sultan dan VOC memperkuat kedudukannya di timur nusantara, serta Kesultanan Buton mampu bertahan dan stabil menghadapi hiruk pikuk persaingan antara kerajaan-kerajaan sekitar dan sepakat bahwa musuh VOC adalah musuh Buton juga.

Faktor Internal: Selisih antar Kaomu

Lahirnya Janji Baana atau Perjanjian Pertama dinilai  sebagai langkah taktis luar biasa oleh Sultan Dayanu Ikhsanudin yang ditempuh untuk menyelematkan Buton dari ancaman Angin Barat (Gowa) dan (Angin Timur) Ternate, seperti yang dikhawatirkan oleh Syaikh Haji Abdul Ganiyu. Tetapi, pilihan tersebut hadir dengan masalah dan intrik dari Sultan Dayanu Ikhsanudin. Janji Baana muncul beriringan dengan perselisihan dalam internal kerajaan, terutama internal golongan Kaomu.

Hal yang harus diingat kembali adalah Kesultanan Buton memiliki stratifikasi sosial yang cukup unik dalam perjalanan sejarah, dimana strata sosial terbagi ke dalam tiga bagian, yaitu Kaomu, Walaka, dan Papara-Batua. Kaomu sendiri kemudian terbagi dalam 3 bagian, yaitu Kaomu Kumbewaha, Kaomu Tanailandu, dan Kaomu Tapi-tapi[13].  (Baca: Strata Sosial di Tanah Buton).

Walaupun Undang-undang Dasar Kesultanan "Murtabat Tujuh" telah disahkan pada masa kepemimpinan Sultan Dayanu Ikhsanudin pada tahun 1610 M, hasrat untuk memimpin kesultanan dari setiap golongan Kaomu tetap ada. Masing-masing menunggu momen untuk memimpin dan mempertahankan kepemimpinan, termasuk Sultan Dayanu Ikhsanudin yang mendapatkan momennya ketika bekerja sama dengan VOC.

Janji Baana yang dirumuskan sebagai solusi untuk Buton dan VOC berubah menjadi polemik ketika diperbaharui kembali oleh Gubernur Jenderal Pieter Both dengan Janji Ruaanguna atau Perjanjian Kedua. Kritik tajam diarahkan ke Sultan Dayanu Ikhsanudin karena dalam Janji Ruaanguna muncul klausul baru yang menyebutkan bahwa sepeninggal Sultan Dayanu Ikhsanuddin estafet kepemimpinan akan diteruskan oleh anak-anaknya, yaitu Syamsuddin dan Qomaruddin[14]. Oleh karena itu, terang benderang memperlihatkan bahwa kepemimpinan selanjutnya akan berada di tangan Kaomu Tanailandu. Klausul baru tersebut menciderai sistem yang telah ditetapkan dan seakan-akan memperlihatkan bahwa Sultan Dayanu Ikhsanuddin ingin memonopoli jabatan sultan hanya berada ditangan Kaomu Tanailandu. Kaomu Kumbewaha dan Kaomu Tapi-tapi jelas tidak akan tinggal diam terhadap keputusan tersebut.

Sumber: www.timur-angin.com

Penerapan keputusan tersebut berujung pada penolakan internal kesultanan, dimanfaatkan pula oleh Kesultanan Gowa dengan mempengaruhi sebagian kalangan istana untuk menolak dengan tegas keputusan tersebut. Hasil dari kumpulan penolakan yang mengkristal adalah turunnya Sultan Qomaruddin dari tampuk kepemimpinan digantikan oleh Sultan Gafurul Wadudu La Buke yang berasal dari Kaomu Kumbewaha. Pengalaman ini kemudian mengantarkan Kesultanan Buton kepada sistem pemilihan sultan yang baru sesuai Undang-undang Murtabat Tujuh, dimana calon sultan harus berasal dari Tanailandu, Kumbewaha, dan Tapi-tapi. Dalam proses pemilihan sultan, setiap cabang tersebut harus mengusulkan calonnya dan pemilihan akan dilakukan berdasarkan musyawarah mufakat Siolimbona.[15]

***

Keputusan yang diambil oleh setiap pemimpin pasti memiliki celah dan cela, kecuali keputusan tersebut adalah wahyu dari Tuhan. Walaupun Janji Baana dan Janji Ruaanguna dinilai sebagai intrik Sultan Dayanu Ikhsanudin untuk memonopoli kekuasaan, keputusan kerja sama tersebut juga memberi dampak positif kepada Kesultanan Buton. Kita tidak dapat membayangkan bagaimana sulitnya Kerajaan Buton pada fase awal; sibuk menjaga diri dari bajak laut dan dominasi Kesultanan Gowa dan Ternate. Keputusan kerja sama ini disatu sisi adalah langkah yang sangat brillian sehingga Kesultanan Buton dapat mempertahankan eksistensinya sampai sekarang. Oleh karena itu, Kesultanan Buton tidak dapat dinilai mutlak sebagai pengkhianat bangsa. Keputusan yang diambil oleh Sultan Dayanu Ikhsanuddin adalah menjaga eksistensi wilayah dan darahnya sendiri. Pada fase awal, persekutuan Buton dan VOC menjunjung tinggi kesetaraan dan fokus pada simbiosis mutualisme masing-masing pihak, tidak seperti Kesultanan Gowa dan Kesultanan Ternate yang menjadikan Buton sebagai jajahan.

Janji Baana adalah cikal bakal lahirnya perjanjian-perjanjian selanjutnya sehingga Buton terikat oleh VOC. Keterikatan ini menjadi salah satu argumen bagi sebagian orang bahwa Buton dan VOC adalah sekutu abadi. Namun, apakah benar Buton dan VOC adalah sekutu abadi? InsyaAllah akan dibahas pada tulisan selanjutnya.

Semoga Allah merahmati para pendahulu kita. Mudah-mudahan Allah memaafkan mereka.


Pandeglang, Agustus 2020



~Alza

_____________________


[1] https://historia.id/kuno/articles/hari-ini-voc-berdiri-DWVe3

[2] Peranginangin, Marlon dkk. 2007. Buku Pintar Pahlawan Nasional, Banten: Scientific Press.

[3] Ridhwan, 2017, Development of Tasawuf in South Sulawesi, Qudus International Journal of Islamic Studies Volume 5, Issue 2.

[4] Rajab, Muh. 2015. DAKWAH ISLAM PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN BUTON KE XXIX. Jurnal Diskursus Islam 49 Volume 3 Nomor 1.

[5] Latif, Yudhi. 2006. Menjadi Indonesia: 13 Abad Eksistensi Islam di Bumi Nusantara. Bandung: Mizan.

[6] Keuning, J. 1973. Sejarah Ambon Sampai pada Akhir Ke XII. Jakarta. Bhatara.

[7] Zuhdi, Susanto, dkk. 1996. Kerajaan Tradisional Sulawesi Tenggara: Kesultanan Buton. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.

[8] La Niampe. 2000. Kabanti Oni Wolio (Puisi Berbahasa Wolio) Jilid 2. Departemen Pendidikan Nasional: Jakarta.

[9] Zuhdi, Susanto. 2018. Sejarah Buton yang Terabaikan: Labu Rope Labu Wana. Jakarta: Wedatama Widyasastra.

[10] Zuhdi, Susanto. 2018. Sejarah Buton yang Terabaikan: Labu Rope Labu Wana. Jakarta: Wedatama Widyasastra.

[11] Chalik, Husein A dkk. 1984. Sejarah Perlawanan terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Daerah Sulawesi Tengggara. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

[12] Zuhdi, Susanto. 2018. Sejarah Buton yang Terabaikan: Labu Rope Labu Wana. Jakarta: Wedatama Widyasastra.

[13] Zahari, A Mulku. 1977. Sejarah dan Adat Fiy Daarul Butuni (Buton). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

[14] Zuhdi, Susanto, dkk. 1996. Kerajaan Tradisional Sulawesi Tenggara: Kesultanan Buton. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.

[15] Zuhdi, Susanto, dkk. 1996. Kerajaan Tradisional Sulawesi Tenggara: Kesultanan Buton. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Sabtu, 23 Mei 2020

Administrasi dan Manajemen? Apa bedanya? (1)

Mei 23, 2020 Posted by Salam Fadillah Alzah , , , , No comments
Administrasi dan Manajemen, apa perbedaannya? Dulu pertanyaan ini sering berputar-putar dipikiran saya sehingga saya bingung menjelaskan dimana letak perbedaan antara administrasi dan manajemen. Untuk teman-teman jurusan Ilmu Administrasi, secara khusus administrasi bisnis, saya ingin bertanya, apa bedanya administrasi bisnis dan manajemen bisnis? Bagaimana teman-teman dari jurusan administrasi bisnis menghadapi pertanyaan, “Jurusan administrasi bisnis itu ngapain aja? Ngurus surat-suratan gitu ya?” Terutama teman-teman dari politeknik, apa kalian masih mempelajari dasar-dasar mengetik? Ataukah telah lebih luas dari sekadar urusan ketik-mengetik?

Melalui artikel kali ini saya ingin membahas jawaban yang teman-teman dapat ajukan ketika mendapatkan pernyataan, “oh, administrasi itu bukannya ngurus persuratan, ya?”. Tulisan ini saya sarikan dari buku Studi tentang Ilmu Administrasi oleh Ulbert Silalahi dengan beberapa tambahan. Ini buku lama, tetapi cukup rinci menjelaskan tentang ilmu administrasi, mulai dari konsep hingga dimensinya. Selamat membaca.


*** 

Definisi dan Bias antara Administrasi dan Manajemen

Sebagaimana yang saya sebutkan diatas, pada umumnya orang akan mendefinisikan administrasi sebagai surat menyurat. Apa itu keliru? Sebenarnya tidak sepenuhnya keliru. Mungkin karena keterbatasan informasi atau pengetahuan sehingga pemahaman masyarakat mengenai administrasi hanya berkisar di tata usaha saja.

Untuk memperjelas sesuatu, saya suka mendefinisikan sesuatu tersebut sebelum membahasnya lebih jauh, dimana definisi atau pengertian itu perlu dilihat dari berbagai aspek, diantaranya dalam ruang lingkup sempit dan luas.

Dalam pengertian sempit, administrasi dapat diartikan sebagai tata usaha, seperti pendapat yang disampaikan oleh Wajong bahwa administrasi meliputi pekerjaan tata usaha yang bersifat mencatat segala sesuatu yang terjadi dalam organisasi untuk menjadi bahan keterangan bagi pemimpin. Jadi, tidak salah jika ada yang mengatakan bahwa administrasi itu urusan tata usaha.

Dalam artian tata usaha, administrasi bertugas untuk mengubah data menjadi informasi, kemudian informasi itu diolah menjadi pengetahuan. Pengetahuanlah yang seharusnya menjadi “makanan” para pimpinan organisasi, bukan informasi, apalagi sekadar data yang masih mentah.



Namun, definisi administrasi juga perlu dilihat dalam pengertian yang luas, dimana administrasi diartikan dengan pengaturan dan tugas yang diperlukan untuk mengendalikan operasi rencana atau organisasi [1]. Herbert A. Simon memberikan definisi yang lebih luas menguraikan bahwa apabila dua orang atau lebih bekerja sama untuk menggulingkan sebuah batu, maka dalam kegiatan tersebut terdapat proses administrasi. The Liang Gie memberikan penjelasan bahwa administrasi adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan sekelompok orang dalam suatu kerja sama untuk mencapai tujuan tertentu.

Di definisi luas inilah kemudian muncul bias antara administrasi dan manajemen karena definisi manajemen pun tidak jauh berbeda dengan administrasi, dimana George R Terry menjelaskan bahwa manajemen kerangka kerja atau proses yang membutuhkan sebuah pengarahan dan bimbingan suatu kelompok orang untuk mencapai suatu tujuan organisasi yang nyata[2]. Bias tersebut muncul karena kesamaan poin antara administrasi dan manajemen, yaitu sekelompok orang, kerja sama, dan tujuan tertentu. Lalu, dimana bedanya?

*** 

Menurut saya penjelasan dari Dalton Mc. Farland lah yang memberikan pemisahan yang jelas antara administrasi dan manajemen dengan mengatakan;

“Administration refers to the determination of major aims and policies, whereas management refers to the carrying out of operation designed to accomplish the aims and effectuate policies” 

(Administrasi mengacu pada penentuan tujuan dan kebijakan utama, sedangkan manajemen mengacu pada pelaksanaan operasi yang dirancang untuk mencapai tujuan dan menjalankan kebijakan) 


Selain Farland, Ordway Tead juga memberikan penegasan mengenai administrasi dan manajemen dengan mengatakan:

“Administrasi sebagai suatu proses dan badan yang bertanggung jawab terhadap penentuan tujuan, dimana organisasi dan manajemen digariskan.” 

Dari dua definisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa inti dari administrasi adalah manajemen dan organisasi. Gambaran mengenai kedudukan keduanya dapat dilihat seperti pada gambar dibawah ini:



Dari gambar tersebut kemudian ditarik penjelasan lebih lanjut bahwa di dalam administrasi terdapat manajemen dan organisasi. Administrasi dalam arti luas bertindak jauh lebih luas dibanding manajemen dan manajemen bertindak sebagai pelaksana dari kebijakan yang telah ditetapkan oleh administrasi, dan organisasi adalah wadah atau tempat untuk menjalankan proses manajemen.

Selain dari uraian diatas, dari sisi mana lagi kita dapat melihat perbedaan antara administrasi dan manajemen? Latar belakang lahirnya teori yang mendasari administrasi oleh Henry Fayol dan manajemen oleh Frederick W. Taylor akan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai administrasi dan manajemen yang akan saya bahas pada tulisan selanjutnya.

Tanjung Lesung, 23 Mei 2020



~ Alza Maligana

____________


Footnote:
[1] Cambridge Dictionary, https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/administration
[2] https://www.gurupendidikan.co.id/pengertian-manajamen/

Minggu, 05 Januari 2020

Mohammad Hatta: Anak Ulama yang Memilih Belanda dibanding Arab

Januari 05, 2020 Posted by Salam Fadillah Alzah , , , , No comments
Mohammad Athar atau yang lebih dikenal dengan nama Mohammad Hatta, lahir di Fort de Kock (Bukit Tinggi), 12 Agustus 1902. Dalam tubuhnya mengalir darah pejuang Islam dan Minangkabau. Ayah beliau adalah seorang ulama tarekat bernama Mohammad Jamil, meninggal ketika Hatta berumur tujuh bulan. Kakek beliau dari pihak ayah adalah Syaikh Abdurrahman Batuhampar, ulama tarekat berpengaruh, guru dari Syaikh Sulaiman Ar-Rasuli dan Syaikh Salim Batubara. Syaikh Abdurrahman juga menjadi pendiri Surau Batuhampar yang menjadi tempat bertamasya iman menuntut ilmu, salah satu dari sedikit surau yang bertahan pascaperang Paderi. [1]
Sumber:
https://www.biografiku.com
Selain mengalirnya darah ulama, keluarga Hatta termasuk dalam pasukan Imam Bonjol saat Perang Paderi. Walaupun demikian, Hatta tidak terlalu berbangga dan mendukung perang diinsiasi Imam Bonjol tersebut. Ia mengkritik dan menyesali jalan perang yang ditempuh oleh Imam Bonjol dengan mengatakan,

”Mereka lupa bahwa hukum yang setinggi-tingginya dalam Islam ialah damai.”

Hatta berkesimpulan demikian karena melihat dampak yang sangat besar mempengaruhi ekonomi hingga politik tanah Minangkabau. Hatta lebih mendahulukan konfrontasi melalui diplomasi dan politik, daripada melawan dengan jalan perang yang efeknya lebih besar dan berkepanjangan. 

Sejak kecil Mohammad Hatta sudah menunjukkan bakat dan kepandaiannya. Beliau memiliki pribadi yang pandai, terstruktur, disiplin, dan rapi sehingga paman beliau, yakni Syaikh Arsyad[2], melihat bahwa Hatta adalah suksesor terbaik untuk masa depan surau yang didirikan Syaikh Abdurrahman, kakek Hatta sendiri. Bergegaslah Syaikh Arsyad merayu Hatta dan ibunya agar kelak Hatta berkenan meneruskan pendidikannya ke Makkah atau Kairo. Jalan perjuangan melawan penjajahan adalah dengan mengembalikan Minangkabau ke pangkuan Islam yang seutuhnya dan saat itu pelajaran keislaman sedang naik daun di Minangkabau.

Namun, harapan tinggal harapan, Syaikh Arsyad harus menelan ludah dan mengalah ketika Hatta tidak memilih Makkah atau Kairo sebagai tujuan untuk melanjutkan pendidikan. Pecahlah impian, berkeping semua rencana. Jika bukan Makkah atau Kairo, lantas kemana? Tak syak Hatta melabuhkan impian dan tujuannya ke Belanda! Ya, Belanda! Sebuah bangsa yang rakus menghabisi jiwa dan tanah Minangkabau untuk kepentingan mereka sendiri. Pilihan Hatta menuju Belanda didukung penuh pula oleh ayah dan ibunya, yakni Mas Agus Haji Ning (ayah tiri) dan Siti Saleha, walaupun keluarga dari pihak ayah kandung Hatta sangat menentang pilihan yang tidak lazim itu.

Kita juga mungkin akan bertanya, mengapa Belanda? Padahal, kakek, ayah kandung, dan pamannya adalah ulama yang memiliki pengaruh di Batuhampar.

Sumber: https://www.biografiku.com/

***

Setidaknya ada dua alasan yang dapat saya tangkap dari buku Indonesia Merdeka: Biografi Politik Mohammad Hatta oleh Mavis Rose mengapa Hatta memilih Belanda yang menunjukkan bahwa pilihan tersebut bukan nihil alasan, tetapi ada latar belakang peristiwa dan pengalaman emosional Hatta.



Pertama, Hatta memilih jihad pendidikannya ke Belanda karena pengaruh tidak langsung dari gurunya, yaitu Syaikh Muhammad Jamil Jambek. Sang Guru adalah tokoh pelopor pembaharu di Minangkabau yang dikenal dengan gerakan Reformis Modernis. Beliau adalah murid dari Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi.

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Jamil_Jambek

Muhammad Jambek menilai dan menyatakan bahwa kaum muslimin perlu belajar kepada Eropa untuk menghadapi tantangan dominasi Eropa, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini sangat bertentangan dengan apa yang diyakini masyarakat Minangkabau pada umumnya, termasuk Syaikh Arsyad, yang gencar menyarankan para pemuda untuk melanjutkan pendidikannya ke Makkah, lalu masuk ke universitas di Kairo, yaitu Universitas Al-Azhar. Muhammad Jamil Jambek menyatakan bahwa seorang muslim tidak boleh membatasi diri hanya belajar keagamaan, seorang muslim harus membuka dan memperkaya diri mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi agar mampu bersaing dan menghadapi tantangan zaman yang semakin berkembang.

Dalam satu sisi dapat dilihat bahwa Hatta tumbuh sebagai individu yang memadukan ilmu dari Barat dan Islam, dimana jika ditinjau dari sisi ideologi, jalan yang beliau pilih adalah sosialis, tetapi sosialisme tersebut telah ia ramu dengan Islam sehingga disebut Islam-Sosialisme.[3] Ide menghubungkan Islam dan Sosialisme yang ia tempuh ini bertambah kuat ketika beliau bertemu dengan HOS Tjokroaminoto yang juga mengusung paham Islam Sosialisme.[4]


Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Umar_Said_Cokroaminoto

Kedua, perselisihan internal kaum muslimin, yakni antara Reformis Modernis dan Sufi Tarekat Naqsabandiyah. Hatta lahir dari keluarga yang memegang erat paham Sufi Tarekat, sedangkan guru beliau, yakni Muhammad Jambek, adalah seorang Reformis Modernis. Reformis Modernis terus menerus menyerang Sufi Tarekat dengan pandangan bahwa Sufi Tarekat bukan dari Islam, tetapi dari India. Islam harus dimurnikan kembali dan dijauhkan dari takhayul dan khurafat yang ada dalam tubuh Sufi Tarekat. Secara tidak langsung pola ini terlihat seperti pola pemantik api di Perang Paderi. Perpaduan unik ini membuat Mavis Rose menyebut Hatta sebagai seorang sufi sekaligus wahabi. Pertikaian dan perdebatan terus terjadi diantara kedua kubu ini sehingga Hatta tidak memilih persatuan keagamaan, tetapi memilih persatuan atas dasar sosialisme.

Sumber: https://historia.id/politik/articles/demi-pengakuan-kedaulatan-P9jMZ

Perjalanan hidup terus bergulir dan Hatta akhirnya melihat pula bahwa persatuan berdasarkan ideologi Sosialisme juga sempat mengecewakan beliau, seperti peristiwa Konferensi Meja Bundar, dimana mayoritas yang memilih tidak setuju pada keputusan Hatta dan delegasi lainnya saat melakukan perundingan justru rekan-rekan beliau dari Partai Sosialis Indonesia yang kecewa karena Irian Barat jatuh ke tangan Belanda.[5] Padahal saat itu kedaulatanlah yang harus diperjuangkan terlebih dahulu. Seperti itulah persatuan, akan ada celah disetiap sisinya dan hanya kedewasaan yang dapat menyatukan kerenggangan tersebut.

***

Jujur saja, jika saya hidup pada masa kecil Hatta yang dihadapkan oleh pilihan Makkah-Kairo dan Belanda, hati saya lebih condong ke Makkah-Kairo. Tetapi, Allah dengan sifat Maha Mengetahui dan Maha Berkehendak mengarahkan Hatta memilih Belanda daripada Makkah dan Kairo. Pelajaran sederhana dalam pandangan sempit saya, Hatta mungkin akan memberikan dampak positif yang begitu besar kepada surau jika ia memilih Makkah dan Kairo, tetapi Allah menuntut Hatta memilih Belanda untuk memberikan maslahat yang lebih besar, yakni kemerdekaan Indonesia.

Hatta menjadi salah satu tokoh penting dalam perjalanan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pikiran dan tulisan beliau yang tajam terhadap kawan dan lawan ciri khas beliau. Kekuatan beliau bukan di orasi, tapi tulisan dan strategi[6]. Kekuatan ini ia dapatkan selama menempuh pendidikan dan berorganisasi di Belanda. Berbagai kesenangan harus ia relakan demi satu hal, yakni kemerdekaan bangsa Indonesia. Semoga Allah merahmati dan mengampuni anda wahai Bapak Bangsa!

Pandeglang, 05 Januari 2020


  
~Alza


[2] Syaikh Arsyad adalah saudara tiri dari ayah Mohammad Hatta yang bernama Syaikh Muhammad Jamil. Ayah Hatta meninggal ketika Hatta masih berumur tujuh bulan. Sepeninggal Syaikh Abdurahman Batuhampar, surau dipimpin oleh Syaikh Arsyad.

[3] Hatta tidak mengadopsi Sosialisme secara mentah-mentah. Diantara hal yang beliau kritisi adalah harga pasar. Hatta lebih setuju pada pernyataan Adam Smith bahwa biarlah pasar yang menentukan harga oleh fenomena supply and demand, pemerintah tidak boleh terlalu banyak melakukan intervensi pada pasar karena sangat berpotensi merusak kondisi perekonomian negara.

Hatta semakin yakin dengan pendapat ini karena sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda, “…‘Sesungguhnya Allah-lah yang menentukan harga, serta mengencangkan, melapangkan, dan memberi rezeki…”. Wallahu a’lam

[4] Tjokroaminoto: Guru Para Pendiri Bangsa, (Seri Buku Tempo: Bapak Bangsa) oleh Tim Buku Tempo

[5] Selain dari buku, anda dapat membaca serpihan kisah ini di https://historia.id/politik/articles/demi-pengakuan-kedaulatan-P9jMZ

[6] Kekuatan orasi dimiliki Soekarno, sedangkan kekuatan menulis dan strategi dimiliki Hatta. Soekarno lebih memahami masyarakat Jawa sehingga ide-ide berat yang diajukan oleh Hatta lebih mudah dimengerti oleh masyarakat Jawa jika disampaikan oleh Soekarno. Hanya orang tertentu dengan frekuensi yang sama yang dapat memahami dingin dan tajamnya kalimat Hatta disetiap pidato-pidato datarnya.

Senin, 22 Oktober 2018

Aku Berhentinya di Kamu Saja

Oktober 22, 2018 Posted by Salam Fadillah Alzah , , , 6 comments
“Apa kamu benar-benar mencintaiku?”

Pertanyaan ini setali tiga uang dengan racikan tabib masyhur di negeri nan jauh disana, yang harus diteguk teratur dalam sehari, sekadar untuk memastikan bahwa manusia gila dan nihil wibawa ini benar-benar mencintaimu.

Aku linglung harus menjawab apa? Mungkin, sebagian dari deretan aksara ini bias menjelaskan. Sedikit saja. Biar kamu penasaran.

Aku mencintaimu nyaris tanpa alasan. Bagiku, belum ada tumpukan kalimat yang berdebat di dahi ini, yang berkalam lihai menjelaskan mengapa aku mencintaimu. Jika kamu tetap bertanya, mungkin ada beberapa asbab musababnya.

Tanjung Lesung
Aku mencintaimu karena aku tak perlu menjadi orang lain dihadapanmu. Bebas. Yang kamu lihat kini, itulah yang sebenarnya, atau mungkin belum semuanya.

Semusim kita tertawa bersama, menciptakan lelucon receh. Lalu kamu tertawa bukan karena lucunya candaanku, tapi karena anehnya selera humorku. Tiba-tiba wajahku penuh coret amarah dan dendam, berjalan beriringan dengan hujan tangis dari mataku yang tidak tahu malu membahasi bahumu di malam itu. Lalu kamu tenang memeluk, mengusap pelan, “Tidak apa-apa.” Aku terlalu cengeng, lemah, dan manja.

“Bagaimana kalau ada yang lebih baik?”

Lembut lisanmu mencegat. Dahiku mengkerut. Semoga ujian disertasi tak sesulit ini.

Aku menetapkan hati yang tetap berkembang layarnya dan menjungkal ke atas untuk tetap maju, bukan karena mau bermain-main, walaupun mungkin pembuktian baru seujung jari. Aku berhentinya di kamu saja. Cukup kamu saja.

Aku suka caramu berbicara, memberi isyarat, membantah, memeluk, dan menggenggam tanganku. Hangat.

Tanjung Lesung

Lalu kamu kembali menahan, “Tapi aku banyak kurangnya?”. Aku sadar kamu bukanlah Dewi Athena yang jelita paras sampai tutur katanya, sebagaimana aku pun bukan Jibril yang tenang dan suci dalam semua tindakannya.

Kekurangan, keegoisan, ketidakpedulian, dan rangakaian kekurangan lain itu tetaplah membumi. Kamu dan aku butuh waktu untuk menyamakan warna, butuh waktu menyejajarkan frekuensi agar hati kita terikat bersama, agar pikiran kita berjalan dalam satu gaung dan gema yang sama.

Jika semuanya datar saja, apa menariknya kisah kita? Sudah mafhum, tali yang terkekang itu perlu guncangan, tarikan, dan sedikit hantaman untuk membuktikan kekuatan eratnya.

Diperjalanan menuju tempatmu berteduh, aku memandangi matahari yang membelah langit Jakarta, persis seperti romanmu yang membelah dimataku. Aku berhentinya di kamu saja. Cukup kamu saja.

Jakarta, 23 September 2017



~Alza

Senin, 02 April 2018

Strata Sosial di Tanah Buton: Sebuah Ringkasan dan Pertanyaan

April 02, 2018 Posted by Salam Fadillah Alzah , , , , , , , 5 comments
Sumber: indonesiawonder.com
Strata sosial dalam kehidupan bermasyarakat sejak dahulu seakan menjadi sebuah kebutuhan dengan tujuan atau motif tertentu. Sebagaimana kelompok masyarakat lainnya, Buton pun sebagai sekumpulan masyakat yang berada dalam satu naungan pemerintahan juga memiliki strata sosial.

Setelah lama kosong karena dikejar deadline proposal thesis yang mulai menggila, kali ini saya akan membahas tentang strata sosial di Kesultanan Buton atau Wolio, diringkas dari jurnal Antropologi karya Tony Rudyansjah yang berjudul “Kaomu, Papara, dan Walaka; Suatu Kajian Mengenai Struktur Sosial dan Ideologi Kekuasaan di Kesultanan Wolio”, dan disertai beberapa tambahan dari jurnal dan tulisan lain, serta komentar dan pertanyaan yang sekiranya dapat didiskusikan. Semoga uraian dibawah ini bermanfaat.

***

Strata di Kesultanan Buton terbagi atas tiga; Kaomu, Walaka, dan Papara. Sebagian menyebutkan terdapat satu strata lagi, yakni Batua. Akan tetapi, sebagian berpendapat bahwa Batua dikategorikan ke dalam Papara. Kaomu dan Walaka dikategorikan ke dalam orang Wolio, sementara Papara dan Batua tidak.

Darimana kata Wolio berasal? Beberapa menyebutkan bahwa kata “wolio” berasal dari kata “welia” yang berarti menebas hutan. Seiring perjalanan waktu, telah terjadi Islamisasi hampir diseluruh aspek kehidupan masyarakat Wolio, termasuk nama Wolio yang dikaitkan menjadi kata ‘Waliyullah” (Darmawan:2008). Adapula yang menyebutkan bahwa Wolio berasal dari kata Waliyu, sebuah kerajaan di dalam Kecamatan Lasalimu yang dianggap telah lama ada jauh sebelum kerajaan Wolio lahir.

Wolio berasal dari kata welia, yang berarti menebas hutan.

Seseorang dikategorikan ke dalam Kaomu, Walaka, Papara, atau Batua didasarkan pada kamia, yakni asal usulnya. Kamia berasal dari akar kata “ka” dan “mia”. Ka berarti kekuatan, dan mia berarti manusia. Kaum Kaomu dinisbatkan pada keturunan pendiri Kerajaan Wolio, sementara Walaka adalah pendiri-pendiri komunitas Wolio.

Sumber: indonesia-heritage.net


~Walaka

Walaka adalah keturunan kaum Siolimbona. Siolimbona berakar dari kata “sio” yang berarti sembilan, sementara “limbona” berarti kampung atau pemukiman, mengacu pada sembilan kampung yang terdiri dari Baluwu, Peropa, Gundu-gundu, Barangkatopa, Gama, Siompu, Wandailolo, Rakia, dan Melai, keseluruhannya terletak didalam Benteng Keraton Wolio.

Siolimbona mengacu pada sembilan kampung, yaitu Baluwu, Peropa, Gundu-gundu, Barangkatopa, Gama, Siompu, Wandailolo, Rakia, dan Melai

Kesembilan perkampungan atau pemukiman tersebut adalah perluasan dari empat kampung awal yang disebut Patalimbona, yakni Baluwu, Peropa, Gundu-gundu, dan Barangkatopa. Keempat kampung ini berkaitan dengan empat tokoh terkenal dalam sejarah Wolio yang menjadi pendiri dari komunitas Wolio, yaitu Mia Patamiana (empat manusia), terdiri dari Sipanjonga, Simalui, Sijawangkati, dan Sitamanajo.

Sipanjonga adalah seorang raja dari sebuah daerah yang bernama Liyaa di tanah Melayu. Ia melakukan pelayaran menuju “arah matahari” (berdasarkan “wahyu” dari langit) hingga akhirnya beliau berhenti di Tanah Buton. Sipanjonga sebagai salah satu nenek moyang masyarakat Buton adalah seorang penakluk laut, maka tidak salah jika sifat ini diwariskan ke keturunan-keturunannya, hingga Pelras dalam “The Bugis”, sebagaimana yang dikutip oleh Darmawan (2008), menyebutkan bahwa Penakluk Lautan terdiri dari Bangsa Bajo, Makassar, Mandar, Buton, dan Using (Madura).

Sipanjonga pertama kali menginjakkan kakinya di Kalampa, kemudian berpindah ke tepi sungai Baubau. Ia bermukim dan membangun daerah tepi sungai Baubau menjadi negeri yang besar dan berpengaruh di jazirah nusantara.

Perluasan ini memiliki dua tahap. Tahap Pertama, perjanjian antara Sipanjonga dan negeri Tobe-tobe yang dipimpin Dungku Cangia, seorang panglima dari kekaisaran China, Khulagu Khan. Sipanjonga mengajak Simalui untuk bergabung, menjadi lebih mudah dengan usaha Sipanjonga menikahi saudara perempuan Simalui yang bernama Sabanang. Hasil dari pernikahan tersebut adalah Betoambari.

Tahap pertama, perjanjian Sipanjoga dan Dungku Cangia

Tahap kedua adalah perluasan wilayah yang dilakukan Betoambari dengan menaklukkan Lawele. Selain melalui penaklukkan wilayah, Betoambari memperluas wilayah kekuasaannya juga melalui pernikahan, yakni menikahi putri raja dari negeri Kamaru.

Tahap kedua, penaklukkan Lawele dan pernikahan dengan putri raja negeri Kamaru

~Kaomu

Kaomu sering menonjolkan dirinya sebagai keturunan raja-raja monarki Wolio, dimana Ratu Wa Kaa Kaa adalah nama yang sering disebut sebagai leluhur mereka yang menjadi inti pembeda antara Kaomu dengan yang lain. Wa Kaa Kaa menjadi istimewa karena ia menjadi penengah dan penghubung komunitas-komunitas awal Wolio.

Komunitas Wolio yang pada awalnya terbagi dalam dua bagian; Sipanjonga dan Sijawangkati membentuk satu bagian, dan Simalui bersama Sitamanajo membentuk bagian yang lain. Di masa selanjutnya, paruh pertama dipimpin oleh Betoambari, dan paruh lainnya dipimpin oleh Sangriana. Sibatara dan Wa Kaa Kaa kemudian dinikahkan oleh Betoambari dan Sangriana sebagai suatu pasangan kerajaan yang memimpin Wolio. Oleh karena itu, Wa Kaa Kaa adalah figur ratu yang menjadi penengah dan asbab pemersatu antara kedua paruh kerajaan.

Seseorang dapat diakui sebagai seorang Kaomu ketika ia dapat membuktikan dirinya dengan dua cara. Pertama, apakah ia memiliki hubungan darah atau dapat menulusuri silsilahnya sampai ke Ratu Wa Kaa Kaa dan Sibatara. Oleh karena itu, menghafal nasab dalam ingatan dan tulisan patut dilakukan demi menjaga silsilah dan tidak terjadi aku-mengakui dalam urusan pertalian darah. Salah satu contoh dampaknya adalah dalam urusan pernikahan, dimana seseorang dianjurkan untuk memilih yang sekufu dengannya.

Cara kedua, apakah ia keturunan dari para lakina (raja) Sembilan kerajaan kecil atau Siolipuna dan empat wilayah atau Barata Patapalena yang bergabung ke dalam wilayah Wolio. Dalam perjalanan sejarah, keturunan raja Siolipuna dan raja Barata Patapalena tersebut kemudian dimasukkan ke dalam kategori Kaomu.

Kaomu adalah keturunan Wa Kaa Kaa atau keturunan para raja Siolipuna

Lalu, apa pembeda antara Kaomu dan Walaka? Pembeda antara kedua strata tersebut adalah Kaomu secara khusus adalah keturunan Wa Kaa Kaa, sementara Walaka adalah keturunan dari para pendiri komunitas Wolio (Sipanjonga, Sijawangkati, Simalui, Sitamanajo). Namun, dikarenakan proses perkawinan yang terjadi antara Kaomu dan Walaka, tolak ukur tersebut menjadi tidak efektif. Untuk memperkuat argumentasi, Kaomu menegaskan bahwa dalam darah mereka mengalir darah Nabi Muhammad, dari muballigh Arab, yakni Abdul Wahab dan Syarif Muhammad. Mereka berdua adalah penasehat raja di dalam Kesultanan Wolio.

Disebabkan oleh mengalirnya darah Nabi Muhammad, golongan Kaomu sering tampil sebagai ahli agama. Namun bukan berarti hak untuk mempelajari agama hanya berada ditangan mereka saja. Salah satu bukti adalah "Zawiyah", sebuah tempat untuk mempelajari Islam Tasawuf yang disediakan untuk khalayak umum yang dibangun oleh La Jampi atau Sultan Qoimuddin Tua (kakek dari Sultan Muhammad Idrus Qoimuddin) yang berdiri hingga tahun 1974 (La Niampe:2010). Semoga lembaga pendidikan “legendaris” ini berkenan dihidupkan kembali oleh pemerintah Kota Baubau dan sara Kesultanan Buton.

Tanpa mengurangi rasa hormat, saya menyoal argumentasi yang dibangun oleh Kaomu bahwa di dalam tubuh mereka mengalir darah Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam. Ada beberapa pertanyaan yang mendasar. Pertama, dimana benang merah antara dua muballigh ini dengan keturunan Wa Kaa Kaa? Apakah terjadi perkawinan dan terbukti bahwa darah Kaomu mengalir darah Nabi Muhammad melalui kedua muballigh tersebut? Dalam jurnal tidak disebutkan dengan jelas.

Kedua, siapakah Abdul Wahab dan Syarif Muhammad? Bagaimana pertalian darah mereka dengan Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam? Apakah Syarif Muhammad ini adalah Muhammad Al-Aydrus, saudara dari Musarafatul Izzati al Fikhri alias Wa Kaa Kaa dalam versi asal muasal Ratu Wa Kaa Kaa yang lain? Jika iya, bagaimana mendiskusikan dan mencari titik temu antara kedua versi cerita tersebut? Dalam sepengatahuan saya yang fakir pengetahuan, masih terus mencari informasi dan menggali literatur , setidaknya terdapat dua versi mengenai asal usul Wa Kaa; versi satu Wa Kaa Kaa berasal dari China, versi kedua Wa Kaa Kaa berasal dari Madinah.

Hal ini perlu diperjelas dengan bukti nyata bahwa mereka berdua adalah keturunan Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam., apa marganya, dari mana asalnya, apakah terhubung ke Husain atau Hasan radhiyallahu 'anhum, sebagaimana para habaib yang teroganisir di Jakarta dan daerah lainnya jelas dalam nasabnya tersambung kepada Baginda Nabi, secara khusus melalui Isa Al-Muhajir dari Yaman (Anuz:2016).

Siapakah Abdul Wahab dan Syarif Muhammad? Benarkah mereka keturunan Baginda Nabi Muhammad shollallahu 'alaihi wa sallam?

Kejelasan nasab perlu dipertahankan untuk memperkuat pernyataan bahwa Abdul Wahab dan Syarif Muhammad adalah benar-benar keturunan Baginda Nabi, dimana hal ini berimplikasi pada klaim Kaomu bahwa mereka adalah keturunan Baginda Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam.

~ Papara dan Batua

Dalam konteks hubungan darah terhadap komunitas dan pendiri kerajaan Wolio, Papara dianggap tidak memiliki asal usul. Dalam bahasa lain yang disebutkan dalam Sarana Wolio, Papara disebut sebagai gharib, kata dari bahasa arab yang bermakna asing. Masyarakat papara adalah orang yang berasal dari luar keraton Wolio yang tidak diketahui kamia nya. Adapun Batua, kelompok ini sejatinya masih menjadi bagian dari Papara. Namun, masyarakat Batua adalah masyarakat Papara yang diturunkan derajatnya karena tidak mampu membayar hutang, melanggar adat, dan kesalahan-kesalahan yang dianggap fatal lainnya, serta tawanan perang.

Papara adalah gharib atau orang asing. Batua adalah Papara yang diturunkan derajatnya karena melakukan kesalahan atau tawanan perang.

Mengapa papara menjadi “asing”? Sarana Wolio sejak zaman dahulu dinilai sebagai satu dokumen rahasia yang sangat dijaga oleh penguasa; Kaomu dan Walaka. Sarana Wolio mengatur pemerintahan, termasuk bagaimana mengatur masyarakat Papara. Penulis menilai bahwa tindakan ini merupakan tindakan preventif yang dilakukan kaum penguasa untuk menjaga kestabilan kerajaan dengan menjaga kerahasiaan negara.

Sumber: paketwisatakendari.com


~Sejak kapan pembagian strata sosial ini?

­Dalam jurnalnya, penulis menyebutkan bahwa pembagian strata sosial ini belum ada pada masa awal pembentukan komunitas dan kerajaan Wolio. Setidaknya ada dua fase dalam pembagian strata sosial ini.

Fase pertama, kalangan Walaka menyebutkan bahwa pemisahan tersebut terjadi ketika seorang raja (tidak disebutkan namanya) yang berkuasa memiliki dua orang putra mahkota, yakni La Katuturi dan La Kakaramba. Keduanya memiliki peluang dan kesempatan yang sama untuk menjadi raja sepeninggalan ayahnya. Oleh karena itu, demi menghindari potensi konflik dimasa depan, sang raja mengadakan perjanjian dengan kedua anaknya; La Kakaramba beserta seluruh keturunannya memiliki hak untuk ditunjuk menjadi raja, sedangkan La Katuturi beserta seluruh keturunannya berhak dipilih menjadi bonto dari kesembilan pemukiman, yakni Siolimbona. Oleh karena itu, Walaka adalah pihak yang berhak menentukan siapa yang pantas menjadi pemimpin dengan syarat-syarat tertentu yang dipilih dari kalangan Kaomu, melalui musyawarah mufakat.

Fase pertama, La Kakaramba dan keturunannya menjadi raja, La Katuturi dan keturunannnya menjadi bonto.

Fase kedua, pemisahan dilakukan oleh Dayanu Ikhsanuddin yang membagi golongan Kaomu menjadi tiga cabang. Ia bersama keluarganya masuk ke dalam cabang Tanailandu, Dayanu Ikhsanuddin sebagai sesepuhnya. Keluarga Dayanu Ikhsanuddin yang bernama La Singga (sapati) beserta seluruh keturunannya termasuk ke dalam cabang Tapi-tapi, La Singga sebagai sesepuhnya. Yang terakhir adalah Kenepulu Bula beserta semua keturunanya termasuk ke dalam cabang Kumbewaha, Kenepulu Bula sebagai sesepuhnya. Karena pembagian ini, tiga jabatan terpenting hanya dapat dijabat oleh ketiga cabang tersebut. Setelah masa pembagian ini, hanya Kaomu yang murni berasal dari dalam wilayah keraton Buton saja yang memiliki hak untuk menduduki tiga jabatan tersebut.

Fase kedua, Dayanu Ikhsanuddin membagi ke dalam tiga; Tanailandu, Kumbawaha, dan Tapi-tapi.

***

Di akhir tulisan ini, saya menarik sebuah kesimpulan sederhana bahwa pembagian strata sosial adalah sebuah kebutuhan dalam pemerintahan. Dalam jurnal telah disebutkan bahwa pembagian antara orang Wolio (Kaomu dan Walaka) dan orang asing (Papara dan Batua) adalah tindakan preventif atau pencegahan untuk menjaga kestabilan pemerintahan, dimana salah bentuk penjagaan tersebut adalah dengan menjaga dokumen rahasia. Dalam pandangan saya, pembagian strata sosial ini lebih condong ke ranah politik atau administrasi publik demi kerapihan pemerintahan, dan tidak dapat dipungkiri bahwa nilai-nilai keagamaan juga mempengaruhinya.

Semoga Allah merahmati dan memberi petunjuk kepada kita semua. Semoga Allah merahmati dan mengampuni kaum muslimin dan mu’minin yang telah mendahului kita, terutama para sultan dan jajaran pemerintahannya yang telah berjasa menghadirkan Islam di tanah Buton.


Jakarta, 2 April 2018
Dibuat disela-sela proposal dan paper yang menggila.



~ Alza

------------

Sumber:


2. Fariq Gazim Anuz. 2016. Percikan Hikmah dari Kisah Tabi'in. Pustaka Imam Syafii.

3. La Niampe. 2010. La Ode Muhammad Idrus Qoimuddin; Sastrawan Sufi Ternama di Buton Abad XIX. Jurnal Humaniora Vol. 22, hal. 250-265

4. https://almanhaj.or.id/2976-i-k-h-l-a-s.html

5. Yusran Darmawan. Bab II; Orang Buton dan Imajinasi Sejarah. Thesis. Universitas Indonesia