"Tak perlu berlebihan. Yang pertengahan saja. Yang sederhana saja"

Sabtu, 23 Mei 2020

Administrasi dan Manajemen? Apa bedanya? (1)

Mei 23, 2020 Posted by Salam Fadillah Alzah , , , , No comments
Administrasi dan Manajemen, apa perbedaannya? Dulu pertanyaan ini sering berputar-putar dipikiran saya sehingga saya bingung menjelaskan dimana letak perbedaan antara administrasi dan manajemen. Untuk teman-teman jurusan Ilmu Administrasi, secara khusus administrasi bisnis, saya ingin bertanya, apa bedanya administrasi bisnis dan manajemen bisnis? Bagaimana teman-teman dari jurusan administrasi bisnis menghadapi pertanyaan, “Jurusan administrasi bisnis itu ngapain aja? Ngurus surat-suratan gitu ya?” Terutama teman-teman dari politeknik, apa kalian masih mempelajari dasar-dasar mengetik? Ataukah telah lebih luas dari sekadar urusan ketik-mengetik?

Melalui artikel kali ini saya ingin membahas jawaban yang teman-teman dapat ajukan ketika mendapatkan pernyataan, “oh, administrasi itu bukannya ngurus persuratan, ya?”. Tulisan ini saya sarikan dari buku Studi tentang Ilmu Administrasi oleh Ulbert Silalahi dengan beberapa tambahan. Ini buku lama, tetapi cukup rinci menjelaskan tentang ilmu administrasi, mulai dari konsep hingga dimensinya. Selamat membaca.


*** 

Definisi dan Bias antara Administrasi dan Manajemen

Sebagaimana yang saya sebutkan diatas, pada umumnya orang akan mendefinisikan administrasi sebagai surat menyurat. Apa itu keliru? Sebenarnya tidak sepenuhnya keliru. Mungkin karena keterbatasan informasi atau pengetahuan sehingga pemahaman masyarakat mengenai administrasi hanya berkisar di tata usaha saja.

Untuk memperjelas sesuatu, saya suka mendefinisikan sesuatu tersebut sebelum membahasnya lebih jauh, dimana definisi atau pengertian itu perlu dilihat dari berbagai aspek, diantaranya dalam ruang lingkup sempit dan luas.

Dalam pengertian sempit, administrasi dapat diartikan sebagai tata usaha, seperti pendapat yang disampaikan oleh Wajong bahwa administrasi meliputi pekerjaan tata usaha yang bersifat mencatat segala sesuatu yang terjadi dalam organisasi untuk menjadi bahan keterangan bagi pemimpin. Jadi, tidak salah jika ada yang mengatakan bahwa administrasi itu urusan tata usaha.

Dalam artian tata usaha, administrasi bertugas untuk mengubah data menjadi informasi, kemudian informasi itu diolah menjadi pengetahuan. Pengetahuanlah yang seharusnya menjadi “makanan” para pimpinan organisasi, bukan informasi, apalagi sekadar data yang masih mentah.



Namun, definisi administrasi juga perlu dilihat dalam pengertian yang luas, dimana administrasi diartikan dengan pengaturan dan tugas yang diperlukan untuk mengendalikan operasi rencana atau organisasi [1]. Herbert A. Simon memberikan definisi yang lebih luas menguraikan bahwa apabila dua orang atau lebih bekerja sama untuk menggulingkan sebuah batu, maka dalam kegiatan tersebut terdapat proses administrasi. The Liang Gie memberikan penjelasan bahwa administrasi adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan sekelompok orang dalam suatu kerja sama untuk mencapai tujuan tertentu.

Di definisi luas inilah kemudian muncul bias antara administrasi dan manajemen karena definisi manajemen pun tidak jauh berbeda dengan administrasi, dimana George R Terry menjelaskan bahwa manajemen kerangka kerja atau proses yang membutuhkan sebuah pengarahan dan bimbingan suatu kelompok orang untuk mencapai suatu tujuan organisasi yang nyata[2]. Bias tersebut muncul karena kesamaan poin antara administrasi dan manajemen, yaitu sekelompok orang, kerja sama, dan tujuan tertentu. Lalu, dimana bedanya?

*** 

Menurut saya penjelasan dari Dalton Mc. Farland lah yang memberikan pemisahan yang jelas antara administrasi dan manajemen dengan mengatakan;

“Administration refers to the determination of major aims and policies, whereas management refers to the carrying out of operation designed to accomplish the aims and effectuate policies” 

(Administrasi mengacu pada penentuan tujuan dan kebijakan utama, sedangkan manajemen mengacu pada pelaksanaan operasi yang dirancang untuk mencapai tujuan dan menjalankan kebijakan) 


Selain Farland, Ordway Tead juga memberikan penegasan mengenai administrasi dan manajemen dengan mengatakan:

“Administrasi sebagai suatu proses dan badan yang bertanggung jawab terhadap penentuan tujuan, dimana organisasi dan manajemen digariskan.” 

Dari dua definisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa inti dari administrasi adalah manajemen dan organisasi. Gambaran mengenai kedudukan keduanya dapat dilihat seperti pada gambar dibawah ini:



Dari gambar tersebut kemudian ditarik penjelasan lebih lanjut bahwa di dalam administrasi terdapat manajemen dan organisasi. Administrasi dalam arti luas bertindak jauh lebih luas dibanding manajemen dan manajemen bertindak sebagai pelaksana dari kebijakan yang telah ditetapkan oleh administrasi, dan organisasi adalah wadah atau tempat untuk menjalankan proses manajemen.

Selain dari uraian diatas, dari sisi mana lagi kita dapat melihat perbedaan antara administrasi dan manajemen? Latar belakang lahirnya teori yang mendasari administrasi oleh Henry Fayol dan manajemen oleh Frederick W. Taylor akan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai administrasi dan manajemen yang akan saya bahas pada tulisan selanjutnya.

Tanjung Lesung, 23 Mei 2020



~ Alza Maligana

____________


Footnote:
[1] Cambridge Dictionary, https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/administration
[2] https://www.gurupendidikan.co.id/pengertian-manajamen/

Minggu, 05 Januari 2020

Mohammad Hatta: Anak Ulama yang Memilih Belanda dibanding Arab

Januari 05, 2020 Posted by Salam Fadillah Alzah , , , , No comments
Mohammad Athar atau yang lebih dikenal dengan nama Mohammad Hatta, lahir di Fort de Kock (Bukit Tinggi), 12 Agustus 1902. Dalam tubuhnya mengalir darah pejuang Islam dan Minangkabau. Ayah beliau adalah seorang ulama tarekat bernama Mohammad Jamil, meninggal ketika Hatta berumur tujuh bulan. Kakek beliau dari pihak ayah adalah Syaikh Abdurrahman Batuhampar, ulama tarekat berpengaruh, guru dari Syaikh Sulaiman Ar-Rasuli dan Syaikh Salim Batubara. Syaikh Abdurrahman juga menjadi pendiri Surau Batuhampar yang menjadi tempat bertamasya iman menuntut ilmu, salah satu dari sedikit surau yang bertahan pascaperang Paderi. [1]
Sumber:
https://www.biografiku.com
Selain mengalirnya darah ulama, keluarga Hatta termasuk dalam pasukan Imam Bonjol saat Perang Paderi. Walaupun demikian, Hatta tidak terlalu berbangga dan mendukung perang diinsiasi Imam Bonjol tersebut. Ia mengkritik dan menyesali jalan perang yang ditempuh oleh Imam Bonjol dengan mengatakan,

”Mereka lupa bahwa hukum yang setinggi-tingginya dalam Islam ialah damai.”

Hatta berkesimpulan demikian karena melihat dampak yang sangat besar mempengaruhi ekonomi hingga politik tanah Minangkabau. Hatta lebih mendahulukan konfrontasi melalui diplomasi dan politik, daripada melawan dengan jalan perang yang efeknya lebih besar dan berkepanjangan. 

Sejak kecil Mohammad Hatta sudah menunjukkan bakat dan kepandaiannya. Beliau memiliki pribadi yang pandai, terstruktur, disiplin, dan rapi sehingga paman beliau, yakni Syaikh Arsyad[2], melihat bahwa Hatta adalah suksesor terbaik untuk masa depan surau yang didirikan Syaikh Abdurrahman, kakek Hatta sendiri. Bergegaslah Syaikh Arsyad merayu Hatta dan ibunya agar kelak Hatta berkenan meneruskan pendidikannya ke Makkah atau Kairo. Jalan perjuangan melawan penjajahan adalah dengan mengembalikan Minangkabau ke pangkuan Islam yang seutuhnya dan saat itu pelajaran keislaman sedang naik daun di Minangkabau.

Namun, harapan tinggal harapan, Syaikh Arsyad harus menelan ludah dan mengalah ketika Hatta tidak memilih Makkah atau Kairo sebagai tujuan untuk melanjutkan pendidikan. Pecahlah impian, berkeping semua rencana. Jika bukan Makkah atau Kairo, lantas kemana? Tak syak Hatta melabuhkan impian dan tujuannya ke Belanda! Ya, Belanda! Sebuah bangsa yang rakus menghabisi jiwa dan tanah Minangkabau untuk kepentingan mereka sendiri. Pilihan Hatta menuju Belanda didukung penuh pula oleh ayah dan ibunya, yakni Mas Agus Haji Ning (ayah tiri) dan Siti Saleha, walaupun keluarga dari pihak ayah kandung Hatta sangat menentang pilihan yang tidak lazim itu.

Kita juga mungkin akan bertanya, mengapa Belanda? Padahal, kakek, ayah kandung, dan pamannya adalah ulama yang memiliki pengaruh di Batuhampar.

Sumber: https://www.biografiku.com/

***

Setidaknya ada dua alasan yang dapat saya tangkap dari buku Indonesia Merdeka: Biografi Politik Mohammad Hatta oleh Mavis Rose mengapa Hatta memilih Belanda yang menunjukkan bahwa pilihan tersebut bukan nihil alasan, tetapi ada latar belakang peristiwa dan pengalaman emosional Hatta.



Pertama, Hatta memilih jihad pendidikannya ke Belanda karena pengaruh tidak langsung dari gurunya, yaitu Syaikh Muhammad Jamil Jambek. Sang Guru adalah tokoh pelopor pembaharu di Minangkabau yang dikenal dengan gerakan Reformis Modernis. Beliau adalah murid dari Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi.

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Jamil_Jambek

Muhammad Jambek menilai dan menyatakan bahwa kaum muslimin perlu belajar kepada Eropa untuk menghadapi tantangan dominasi Eropa, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini sangat bertentangan dengan apa yang diyakini masyarakat Minangkabau pada umumnya, termasuk Syaikh Arsyad, yang gencar menyarankan para pemuda untuk melanjutkan pendidikannya ke Makkah, lalu masuk ke universitas di Kairo, yaitu Universitas Al-Azhar. Muhammad Jamil Jambek menyatakan bahwa seorang muslim tidak boleh membatasi diri hanya belajar keagamaan, seorang muslim harus membuka dan memperkaya diri mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi agar mampu bersaing dan menghadapi tantangan zaman yang semakin berkembang.

Dalam satu sisi dapat dilihat bahwa Hatta tumbuh sebagai individu yang memadukan ilmu dari Barat dan Islam, dimana jika ditinjau dari sisi ideologi, jalan yang beliau pilih adalah sosialis, tetapi sosialisme tersebut telah ia ramu dengan Islam sehingga disebut Islam-Sosialisme.[3] Ide menghubungkan Islam dan Sosialisme yang ia tempuh ini bertambah kuat ketika beliau bertemu dengan HOS Tjokroaminoto yang juga mengusung paham Islam Sosialisme.[4]


Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Umar_Said_Cokroaminoto

Kedua, perselisihan internal kaum muslimin, yakni antara Reformis Modernis dan Sufi Tarekat Naqsabandiyah. Hatta lahir dari keluarga yang memegang erat paham Sufi Tarekat, sedangkan guru beliau, yakni Muhammad Jambek, adalah seorang Reformis Modernis. Reformis Modernis terus menerus menyerang Sufi Tarekat dengan pandangan bahwa Sufi Tarekat bukan dari Islam, tetapi dari India. Islam harus dimurnikan kembali dan dijauhkan dari takhayul dan khurafat yang ada dalam tubuh Sufi Tarekat. Secara tidak langsung pola ini terlihat seperti pola pemantik api di Perang Paderi. Perpaduan unik ini membuat Mavis Rose menyebut Hatta sebagai seorang sufi sekaligus wahabi. Pertikaian dan perdebatan terus terjadi diantara kedua kubu ini sehingga Hatta tidak memilih persatuan keagamaan, tetapi memilih persatuan atas dasar sosialisme.

Sumber: https://historia.id/politik/articles/demi-pengakuan-kedaulatan-P9jMZ

Perjalanan hidup terus bergulir dan Hatta akhirnya melihat pula bahwa persatuan berdasarkan ideologi Sosialisme juga sempat mengecewakan beliau, seperti peristiwa Konferensi Meja Bundar, dimana mayoritas yang memilih tidak setuju pada keputusan Hatta dan delegasi lainnya saat melakukan perundingan justru rekan-rekan beliau dari Partai Sosialis Indonesia yang kecewa karena Irian Barat jatuh ke tangan Belanda.[5] Padahal saat itu kedaulatanlah yang harus diperjuangkan terlebih dahulu. Seperti itulah persatuan, akan ada celah disetiap sisinya dan hanya kedewasaan yang dapat menyatukan kerenggangan tersebut.

***

Jujur saja, jika saya hidup pada masa kecil Hatta yang dihadapkan oleh pilihan Makkah-Kairo dan Belanda, hati saya lebih condong ke Makkah-Kairo. Tetapi, Allah dengan sifat Maha Mengetahui dan Maha Berkehendak mengarahkan Hatta memilih Belanda daripada Makkah dan Kairo. Pelajaran sederhana dalam pandangan sempit saya, Hatta mungkin akan memberikan dampak positif yang begitu besar kepada surau jika ia memilih Makkah dan Kairo, tetapi Allah menuntut Hatta memilih Belanda untuk memberikan maslahat yang lebih besar, yakni kemerdekaan Indonesia.

Hatta menjadi salah satu tokoh penting dalam perjalanan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pikiran dan tulisan beliau yang tajam terhadap kawan dan lawan ciri khas beliau. Kekuatan beliau bukan di orasi, tapi tulisan dan strategi[6]. Kekuatan ini ia dapatkan selama menempuh pendidikan dan berorganisasi di Belanda. Berbagai kesenangan harus ia relakan demi satu hal, yakni kemerdekaan bangsa Indonesia. Semoga Allah merahmati dan mengampuni anda wahai Bapak Bangsa!

Pandeglang, 05 Januari 2020


  
~Alza


[2] Syaikh Arsyad adalah saudara tiri dari ayah Mohammad Hatta yang bernama Syaikh Muhammad Jamil. Ayah Hatta meninggal ketika Hatta masih berumur tujuh bulan. Sepeninggal Syaikh Abdurahman Batuhampar, surau dipimpin oleh Syaikh Arsyad.

[3] Hatta tidak mengadopsi Sosialisme secara mentah-mentah. Diantara hal yang beliau kritisi adalah harga pasar. Hatta lebih setuju pada pernyataan Adam Smith bahwa biarlah pasar yang menentukan harga oleh fenomena supply and demand, pemerintah tidak boleh terlalu banyak melakukan intervensi pada pasar karena sangat berpotensi merusak kondisi perekonomian negara.

Hatta semakin yakin dengan pendapat ini karena sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda, “…‘Sesungguhnya Allah-lah yang menentukan harga, serta mengencangkan, melapangkan, dan memberi rezeki…”. Wallahu a’lam

[4] Tjokroaminoto: Guru Para Pendiri Bangsa, (Seri Buku Tempo: Bapak Bangsa) oleh Tim Buku Tempo

[5] Selain dari buku, anda dapat membaca serpihan kisah ini di https://historia.id/politik/articles/demi-pengakuan-kedaulatan-P9jMZ

[6] Kekuatan orasi dimiliki Soekarno, sedangkan kekuatan menulis dan strategi dimiliki Hatta. Soekarno lebih memahami masyarakat Jawa sehingga ide-ide berat yang diajukan oleh Hatta lebih mudah dimengerti oleh masyarakat Jawa jika disampaikan oleh Soekarno. Hanya orang tertentu dengan frekuensi yang sama yang dapat memahami dingin dan tajamnya kalimat Hatta disetiap pidato-pidato datarnya.

Senin, 22 Oktober 2018

Aku Berhentinya di Kamu Saja

Oktober 22, 2018 Posted by Salam Fadillah Alzah , , , 6 comments
“Apa kamu benar-benar mencintaiku?”

Pertanyaan ini setali tiga uang dengan racikan tabib masyhur di negeri nan jauh disana, yang harus diteguk teratur dalam sehari, sekadar untuk memastikan bahwa manusia gila dan nihil wibawa ini benar-benar mencintaimu.

Aku linglung harus menjawab apa? Mungkin, sebagian dari deretan aksara ini bias menjelaskan. Sedikit saja. Biar kamu penasaran.

Aku mencintaimu nyaris tanpa alasan. Bagiku, belum ada tumpukan kalimat yang berdebat di dahi ini, yang berkalam lihai menjelaskan mengapa aku mencintaimu. Jika kamu tetap bertanya, mungkin ada beberapa asbab musababnya.

Tanjung Lesung
Aku mencintaimu karena aku tak perlu menjadi orang lain dihadapanmu. Bebas. Yang kamu lihat kini, itulah yang sebenarnya, atau mungkin belum semuanya.

Semusim kita tertawa bersama, menciptakan lelucon receh. Lalu kamu tertawa bukan karena lucunya candaanku, tapi karena anehnya selera humorku. Tiba-tiba wajahku penuh coret amarah dan dendam, berjalan beriringan dengan hujan tangis dari mataku yang tidak tahu malu membahasi bahumu di malam itu. Lalu kamu tenang memeluk, mengusap pelan, “Tidak apa-apa.” Aku terlalu cengeng, lemah, dan manja.

“Bagaimana kalau ada yang lebih baik?”

Lembut lisanmu mencegat. Dahiku mengkerut. Semoga ujian disertasi tak sesulit ini.

Aku menetapkan hati yang tetap berkembang layarnya dan menjungkal ke atas untuk tetap maju, bukan karena mau bermain-main, walaupun mungkin pembuktian baru seujung jari. Aku berhentinya di kamu saja. Cukup kamu saja.

Aku suka caramu berbicara, memberi isyarat, membantah, memeluk, dan menggenggam tanganku. Hangat.

Tanjung Lesung

Lalu kamu kembali menahan, “Tapi aku banyak kurangnya?”. Aku sadar kamu bukanlah Dewi Athena yang jelita paras sampai tutur katanya, sebagaimana aku pun bukan Jibril yang tenang dan suci dalam semua tindakannya.

Kekurangan, keegoisan, ketidakpedulian, dan rangakaian kekurangan lain itu tetaplah membumi. Kamu dan aku butuh waktu untuk menyamakan warna, butuh waktu menyejajarkan frekuensi agar hati kita terikat bersama, agar pikiran kita berjalan dalam satu gaung dan gema yang sama.

Jika semuanya datar saja, apa menariknya kisah kita? Sudah mafhum, tali yang terkekang itu perlu guncangan, tarikan, dan sedikit hantaman untuk membuktikan kekuatan eratnya.

Diperjalanan menuju tempatmu berteduh, aku memandangi matahari yang membelah langit Jakarta, persis seperti romanmu yang membelah dimataku. Aku berhentinya di kamu saja. Cukup kamu saja.

Jakarta, 23 September 2017



~Alza

Senin, 02 April 2018

Strata Sosial di Tanah Buton: Sebuah Ringkasan dan Pertanyaan

April 02, 2018 Posted by Salam Fadillah Alzah , , , , , , , 5 comments
Sumber: indonesiawonder.com
Strata sosial dalam kehidupan bermasyarakat sejak dahulu seakan menjadi sebuah kebutuhan dengan tujuan atau motif tertentu. Sebagaimana kelompok masyarakat lainnya, Buton pun sebagai sekumpulan masyakat yang berada dalam satu naungan pemerintahan juga memiliki strata sosial.

Setelah lama kosong karena dikejar deadline proposal thesis yang mulai menggila, kali ini saya akan membahas tentang strata sosial di Kesultanan Buton atau Wolio, diringkas dari jurnal Antropologi karya Tony Rudyansjah yang berjudul “Kaomu, Papara, dan Walaka; Suatu Kajian Mengenai Struktur Sosial dan Ideologi Kekuasaan di Kesultanan Wolio”, dan disertai beberapa tambahan dari jurnal dan tulisan lain, serta komentar dan pertanyaan yang sekiranya dapat didiskusikan. Semoga uraian dibawah ini bermanfaat.

***

Strata di Kesultanan Buton terbagi atas tiga; Kaomu, Walaka, dan Papara. Sebagian menyebutkan terdapat satu strata lagi, yakni Batua. Akan tetapi, sebagian berpendapat bahwa Batua dikategorikan ke dalam Papara. Kaomu dan Walaka dikategorikan ke dalam orang Wolio, sementara Papara dan Batua tidak.

Darimana kata Wolio berasal? Beberapa menyebutkan bahwa kata “wolio” berasal dari kata “welia” yang berarti menebas hutan. Seiring perjalanan waktu, telah terjadi Islamisasi hampir diseluruh aspek kehidupan masyarakat Wolio, termasuk nama Wolio yang dikaitkan menjadi kata ‘Waliyullah” (Darmawan:2008). Adapula yang menyebutkan bahwa Wolio berasal dari kata Waliyu, sebuah kerajaan di dalam Kecamatan Lasalimu yang dianggap telah lama ada jauh sebelum kerajaan Wolio lahir.

Wolio berasal dari kata welia, yang berarti menebas hutan.

Seseorang dikategorikan ke dalam Kaomu, Walaka, Papara, atau Batua didasarkan pada kamia, yakni asal usulnya. Kamia berasal dari akar kata “ka” dan “mia”. Ka berarti kekuatan, dan mia berarti manusia. Kaum Kaomu dinisbatkan pada keturunan pendiri Kerajaan Wolio, sementara Walaka adalah pendiri-pendiri komunitas Wolio.

Sumber: indonesia-heritage.net


~Walaka

Walaka adalah keturunan kaum Siolimbona. Siolimbona berakar dari kata “sio” yang berarti sembilan, sementara “limbona” berarti kampung atau pemukiman, mengacu pada sembilan kampung yang terdiri dari Baluwu, Peropa, Gundu-gundu, Barangkatopa, Gama, Siompu, Wandailolo, Rakia, dan Melai, keseluruhannya terletak didalam Benteng Keraton Wolio.

Siolimbona mengacu pada sembilan kampung, yaitu Baluwu, Peropa, Gundu-gundu, Barangkatopa, Gama, Siompu, Wandailolo, Rakia, dan Melai

Kesembilan perkampungan atau pemukiman tersebut adalah perluasan dari empat kampung awal yang disebut Patalimbona, yakni Baluwu, Peropa, Gundu-gundu, dan Barangkatopa. Keempat kampung ini berkaitan dengan empat tokoh terkenal dalam sejarah Wolio yang menjadi pendiri dari komunitas Wolio, yaitu Mia Patamiana (empat manusia), terdiri dari Sipanjonga, Simalui, Sijawangkati, dan Sitamanajo.

Sipanjonga adalah seorang raja dari sebuah daerah yang bernama Liyaa di tanah Melayu. Ia melakukan pelayaran menuju “arah matahari” (berdasarkan “wahyu” dari langit) hingga akhirnya beliau berhenti di Tanah Buton. Sipanjonga sebagai salah satu nenek moyang masyarakat Buton adalah seorang penakluk laut, maka tidak salah jika sifat ini diwariskan ke keturunan-keturunannya, hingga Pelras dalam “The Bugis”, sebagaimana yang dikutip oleh Darmawan (2008), menyebutkan bahwa Penakluk Lautan terdiri dari Bangsa Bajo, Makassar, Mandar, Buton, dan Using (Madura).

Sipanjonga pertama kali menginjakkan kakinya di Kalampa, kemudian berpindah ke tepi sungai Baubau. Ia bermukim dan membangun daerah tepi sungai Baubau menjadi negeri yang besar dan berpengaruh di jazirah nusantara.

Perluasan ini memiliki dua tahap. Tahap Pertama, perjanjian antara Sipanjonga dan negeri Tobe-tobe yang dipimpin Dungku Cangia, seorang panglima dari kekaisaran China, Khulagu Khan. Sipanjonga mengajak Simalui untuk bergabung, menjadi lebih mudah dengan usaha Sipanjonga menikahi saudara perempuan Simalui yang bernama Sabanang. Hasil dari pernikahan tersebut adalah Betoambari.

Tahap pertama, perjanjian Sipanjoga dan Dungku Cangia

Tahap kedua adalah perluasan wilayah yang dilakukan Betoambari dengan menaklukkan Lawele. Selain melalui penaklukkan wilayah, Betoambari memperluas wilayah kekuasaannya juga melalui pernikahan, yakni menikahi putri raja dari negeri Kamaru.

Tahap kedua, penaklukkan Lawele dan pernikahan dengan putri raja negeri Kamaru

~Kaomu

Kaomu sering menonjolkan dirinya sebagai keturunan raja-raja monarki Wolio, dimana Ratu Wa Kaa Kaa adalah nama yang sering disebut sebagai leluhur mereka yang menjadi inti pembeda antara Kaomu dengan yang lain. Wa Kaa Kaa menjadi istimewa karena ia menjadi penengah dan penghubung komunitas-komunitas awal Wolio.

Komunitas Wolio yang pada awalnya terbagi dalam dua bagian; Sipanjonga dan Sijawangkati membentuk satu bagian, dan Simalui bersama Sitamanajo membentuk bagian yang lain. Di masa selanjutnya, paruh pertama dipimpin oleh Betoambari, dan paruh lainnya dipimpin oleh Sangriana. Sibatara dan Wa Kaa Kaa kemudian dinikahkan oleh Betoambari dan Sangriana sebagai suatu pasangan kerajaan yang memimpin Wolio. Oleh karena itu, Wa Kaa Kaa adalah figur ratu yang menjadi penengah dan asbab pemersatu antara kedua paruh kerajaan.

Seseorang dapat diakui sebagai seorang Kaomu ketika ia dapat membuktikan dirinya dengan dua cara. Pertama, apakah ia memiliki hubungan darah atau dapat menulusuri silsilahnya sampai ke Ratu Wa Kaa Kaa dan Sibatara. Oleh karena itu, menghafal nasab dalam ingatan dan tulisan patut dilakukan demi menjaga silsilah dan tidak terjadi aku-mengakui dalam urusan pertalian darah. Salah satu contoh dampaknya adalah dalam urusan pernikahan, dimana seseorang dianjurkan untuk memilih yang sekufu dengannya.

Cara kedua, apakah ia keturunan dari para lakina (raja) Sembilan kerajaan kecil atau Siolipuna dan empat wilayah atau Barata Patapalena yang bergabung ke dalam wilayah Wolio. Dalam perjalanan sejarah, keturunan raja Siolipuna dan raja Barata Patapalena tersebut kemudian dimasukkan ke dalam kategori Kaomu.

Kaomu adalah keturunan Wa Kaa Kaa atau keturunan para raja Siolipuna

Lalu, apa pembeda antara Kaomu dan Walaka? Pembeda antara kedua strata tersebut adalah Kaomu secara khusus adalah keturunan Wa Kaa Kaa, sementara Walaka adalah keturunan dari para pendiri komunitas Wolio (Sipanjonga, Sijawangkati, Simalui, Sitamanajo). Namun, dikarenakan proses perkawinan yang terjadi antara Kaomu dan Walaka, tolak ukur tersebut menjadi tidak efektif. Untuk memperkuat argumentasi, Kaomu menegaskan bahwa dalam darah mereka mengalir darah Nabi Muhammad, dari muballigh Arab, yakni Abdul Wahab dan Syarif Muhammad. Mereka berdua adalah penasehat raja di dalam Kesultanan Wolio.

Disebabkan oleh mengalirnya darah Nabi Muhammad, golongan Kaomu sering tampil sebagai ahli agama. Namun bukan berarti hak untuk mempelajari agama hanya berada ditangan mereka saja. Salah satu bukti adalah "Zawiyah", sebuah tempat untuk mempelajari Islam Tasawuf yang disediakan untuk khalayak umum yang dibangun oleh La Jampi atau Sultan Qoimuddin Tua (kakek dari Sultan Muhammad Idrus Qoimuddin) yang berdiri hingga tahun 1974 (La Niampe:2010). Semoga lembaga pendidikan “legendaris” ini berkenan dihidupkan kembali oleh pemerintah Kota Baubau dan sara Kesultanan Buton.

Tanpa mengurangi rasa hormat, saya menyoal argumentasi yang dibangun oleh Kaomu bahwa di dalam tubuh mereka mengalir darah Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam. Ada beberapa pertanyaan yang mendasar. Pertama, dimana benang merah antara dua muballigh ini dengan keturunan Wa Kaa Kaa? Apakah terjadi perkawinan dan terbukti bahwa darah Kaomu mengalir darah Nabi Muhammad melalui kedua muballigh tersebut? Dalam jurnal tidak disebutkan dengan jelas.

Kedua, siapakah Abdul Wahab dan Syarif Muhammad? Bagaimana pertalian darah mereka dengan Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam? Apakah Syarif Muhammad ini adalah Muhammad Al-Aydrus, saudara dari Musarafatul Izzati al Fikhri alias Wa Kaa Kaa dalam versi asal muasal Ratu Wa Kaa Kaa yang lain? Jika iya, bagaimana mendiskusikan dan mencari titik temu antara kedua versi cerita tersebut? Dalam sepengatahuan saya yang fakir pengetahuan, masih terus mencari informasi dan menggali literatur , setidaknya terdapat dua versi mengenai asal usul Wa Kaa; versi satu Wa Kaa Kaa berasal dari China, versi kedua Wa Kaa Kaa berasal dari Madinah.

Hal ini perlu diperjelas dengan bukti nyata bahwa mereka berdua adalah keturunan Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam., apa marganya, dari mana asalnya, apakah terhubung ke Husain atau Hasan radhiyallahu 'anhum, sebagaimana para habaib yang teroganisir di Jakarta dan daerah lainnya jelas dalam nasabnya tersambung kepada Baginda Nabi, secara khusus melalui Isa Al-Muhajir dari Yaman (Anuz:2016).

Siapakah Abdul Wahab dan Syarif Muhammad? Benarkah mereka keturunan Baginda Nabi Muhammad shollallahu 'alaihi wa sallam?

Kejelasan nasab perlu dipertahankan untuk memperkuat pernyataan bahwa Abdul Wahab dan Syarif Muhammad adalah benar-benar keturunan Baginda Nabi, dimana hal ini berimplikasi pada klaim Kaomu bahwa mereka adalah keturunan Baginda Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam.

~ Papara dan Batua

Dalam konteks hubungan darah terhadap komunitas dan pendiri kerajaan Wolio, Papara dianggap tidak memiliki asal usul. Dalam bahasa lain yang disebutkan dalam Sarana Wolio, Papara disebut sebagai gharib, kata dari bahasa arab yang bermakna asing. Masyarakat papara adalah orang yang berasal dari luar keraton Wolio yang tidak diketahui kamia nya. Adapun Batua, kelompok ini sejatinya masih menjadi bagian dari Papara. Namun, masyarakat Batua adalah masyarakat Papara yang diturunkan derajatnya karena tidak mampu membayar hutang, melanggar adat, dan kesalahan-kesalahan yang dianggap fatal lainnya, serta tawanan perang.

Papara adalah gharib atau orang asing. Batua adalah Papara yang diturunkan derajatnya karena melakukan kesalahan atau tawanan perang.

Mengapa papara menjadi “asing”? Sarana Wolio sejak zaman dahulu dinilai sebagai satu dokumen rahasia yang sangat dijaga oleh penguasa; Kaomu dan Walaka. Sarana Wolio mengatur pemerintahan, termasuk bagaimana mengatur masyarakat Papara. Penulis menilai bahwa tindakan ini merupakan tindakan preventif yang dilakukan kaum penguasa untuk menjaga kestabilan kerajaan dengan menjaga kerahasiaan negara.

Sumber: paketwisatakendari.com


~Sejak kapan pembagian strata sosial ini?

­Dalam jurnalnya, penulis menyebutkan bahwa pembagian strata sosial ini belum ada pada masa awal pembentukan komunitas dan kerajaan Wolio. Setidaknya ada dua fase dalam pembagian strata sosial ini.

Fase pertama, kalangan Walaka menyebutkan bahwa pemisahan tersebut terjadi ketika seorang raja (tidak disebutkan namanya) yang berkuasa memiliki dua orang putra mahkota, yakni La Katuturi dan La Kakaramba. Keduanya memiliki peluang dan kesempatan yang sama untuk menjadi raja sepeninggalan ayahnya. Oleh karena itu, demi menghindari potensi konflik dimasa depan, sang raja mengadakan perjanjian dengan kedua anaknya; La Kakaramba beserta seluruh keturunannya memiliki hak untuk ditunjuk menjadi raja, sedangkan La Katuturi beserta seluruh keturunannya berhak dipilih menjadi bonto dari kesembilan pemukiman, yakni Siolimbona. Oleh karena itu, Walaka adalah pihak yang berhak menentukan siapa yang pantas menjadi pemimpin dengan syarat-syarat tertentu yang dipilih dari kalangan Kaomu, melalui musyawarah mufakat.

Fase pertama, La Kakaramba dan keturunannya menjadi raja, La Katuturi dan keturunannnya menjadi bonto.

Fase kedua, pemisahan dilakukan oleh Dayanu Ikhsanuddin yang membagi golongan Kaomu menjadi tiga cabang. Ia bersama keluarganya masuk ke dalam cabang Tanailandu, Dayanu Ikhsanuddin sebagai sesepuhnya. Keluarga Dayanu Ikhsanuddin yang bernama La Singga (sapati) beserta seluruh keturunannya termasuk ke dalam cabang Tapi-tapi, La Singga sebagai sesepuhnya. Yang terakhir adalah Kenepulu Bula beserta semua keturunanya termasuk ke dalam cabang Kumbewaha, Kenepulu Bula sebagai sesepuhnya. Karena pembagian ini, tiga jabatan terpenting hanya dapat dijabat oleh ketiga cabang tersebut. Setelah masa pembagian ini, hanya Kaomu yang murni berasal dari dalam wilayah keraton Buton saja yang memiliki hak untuk menduduki tiga jabatan tersebut.

Fase kedua, Dayanu Ikhsanuddin membagi ke dalam tiga; Tanailandu, Kumbawaha, dan Tapi-tapi.

***

Di akhir tulisan ini, saya menarik sebuah kesimpulan sederhana bahwa pembagian strata sosial adalah sebuah kebutuhan dalam pemerintahan. Dalam jurnal telah disebutkan bahwa pembagian antara orang Wolio (Kaomu dan Walaka) dan orang asing (Papara dan Batua) adalah tindakan preventif atau pencegahan untuk menjaga kestabilan pemerintahan, dimana salah bentuk penjagaan tersebut adalah dengan menjaga dokumen rahasia. Dalam pandangan saya, pembagian strata sosial ini lebih condong ke ranah politik atau administrasi publik demi kerapihan pemerintahan, dan tidak dapat dipungkiri bahwa nilai-nilai keagamaan juga mempengaruhinya.

Semoga Allah merahmati dan memberi petunjuk kepada kita semua. Semoga Allah merahmati dan mengampuni kaum muslimin dan mu’minin yang telah mendahului kita, terutama para sultan dan jajaran pemerintahannya yang telah berjasa menghadirkan Islam di tanah Buton.


Jakarta, 2 April 2018
Dibuat disela-sela proposal dan paper yang menggila.



~ Alza

------------

Sumber:


2. Fariq Gazim Anuz. 2016. Percikan Hikmah dari Kisah Tabi'in. Pustaka Imam Syafii.

3. La Niampe. 2010. La Ode Muhammad Idrus Qoimuddin; Sastrawan Sufi Ternama di Buton Abad XIX. Jurnal Humaniora Vol. 22, hal. 250-265

4. https://almanhaj.or.id/2976-i-k-h-l-a-s.html

5. Yusran Darmawan. Bab II; Orang Buton dan Imajinasi Sejarah. Thesis. Universitas Indonesia

Selasa, 10 Oktober 2017

Membahasakan Mimpi

Oktober 10, 2017 Posted by Salam Fadillah Alzah , , , 6 comments
Di suatu kesempatan istrahat siang bersama teman-teman kantor, aku termenung memikirkan masa depan yang entah akan seperti apa wujudnya. Pikiran entah kemana di tambah hiruk pikuknya Jakarta “Sang Megapolitan” dengan kebaikan dan kejahatan di kedua matanya.

Aku pun bertanya ke teman-teman untuk bertukar pikiran, “Kira-kira, sepuluh tahun ke depan kita jadi apa?” Teman menjawab santai, “Jadi mutant! Roar! ” Seketika kami tertawa lepas, “Mimpi macam apa itu? Kamu kebanyakan nonton The Avengers,” aku menimpali. “Bisa saja kan? Manusia karet mungkin?” tertawa kami berlanjut karena lelucon aneh itu.

*** 

“Bagaimana kamu membahasakan mimpi?” Pertanyaan ini sesekali aku gulirkan, sekadar diskusi dan saling bertukar gagasan. Sebagian mengatakan, “Aku ingin sukses”, “Aku ingin membahagiakan orang tua”, “Aku ingin berguna bagi agama, bangsa, dan negara.” Sebenarnya tidak ada yang salah dengan cita-cita seperti itu. Namun, apakah kita tidak merasa mimpi seperti itu terlalu umum?

Bagaimana kamu membahasakan mimpi?

Untuk perbandingan, marilah kita menolehkan pandangan kepada para Salaf ash-Shaleh dalam mencita-citakan sesuatu. Pertama, lihatlah Umar bin Abdul Aziz – semoga Allah merahmati beliau –.

Telah masyhur dan mafhum dalam ribuan literatur bahwa Umar bin Abdul Aziz adalah satu khalifah yang hebat dalam kepemimpinannya. Kesejahteraan yang merata di seluruh wilayah dan lapisan masyarakat menjadi ciri khasnya. Apa saja cita-cita beliau? Di masa muda, beliau bercita-cita menikahi Fathimah binti Abdul Malik, wanita jelita, putri Abdul Malik bin Marwan. Terwujud. Beliau kembali bercita-cita dengan sesuatu yang lebih bergengsi; memimpin Madinah. Kembali terwujud.

Hari berganti hari, beliau bercita-cita ingin menjadi khalifah. Beliau kembali mewujudkannya. Selepas mendapatkan itu semua, mimpi beliau kemudian bertransformasi menjadi lebih agung, “Aku ingin masuk surga.”[1] Satu mimpi yang mustahil tercapai, kecuali dengan niat yang bulat dan usaha yang kuat. Apa beliau mewujudkan mimpi terakhirnya? Wallahu a’lam. Semoga Allah mengampuni Umar bin Abdul Aziz dan memasukkan beliau ke dalam surga-Nya.

Selain Umar bin Abdul Aziz, kita juga dapat meneguk hikmah dalam kisah Urwah bin Zubair, Abdullah bin Zubair, Mush’ab bin Zubair, dan Abdul Malik bin Marwan dalam bercita-cita. Semoga Allah merahmati mereka semua.

Suatu waktu di Baitul Haram, mereka berkumpul di sekitar rukun Yamani, membuka percakapan yang sederhana lalu menjadi serius. Abdullah bin Zubair bertutur tegas, “Cita-citaku menguasai seluruh daratan Hijaz dan menjadi khalifahnya.”

Tak mau kalah, Mush’ab bin Zubair berkata, “Keinginanku adalah menguasai dua wiilayah Irak dan tak ada yang mengganggu kekuasaanku.”

Selanjutnya, Abdul Malik bin Marwan berkata, “Bila kalian berdua sudah merasa cukup dengan itu, maka aku tidak akan puas hingga dapat menguasai seluruh dunia dan menjadi khalifah setelah Muawiyah bin Abu Sufyan.”

Bagaimana dengan Urwah bin Zubair? Beliau menjawab dengan kalam yang menyentuh;

“Semoga Allah memberkahi semua cita-cita dari urusan dunia kalian, aku ingin menjadi alim sehingga orang-orang akan belajar dan mengambil ilmu tentang kitab Rabb-nya, sunnah Nabi-Nya dan hukum-hukum agama-Nya dariku, lalu aku berhasil di akhirat dan memasuki surga dengan ridha Allah.”[2] 

Matahari dan bulan berlarian membuka dan menutup hari, waktu menjawab apa yang mereka cita-citakan; Mush’ab bin Zubair menguasai dua wilayah Irak, Abdullah bin Zubair menguasai daratan Hijaz, Abdul Malik bin Marwan menjadi Khalifah, dan Urwah bin Zubair menjadi seorang yang ‘alim pada masanya.

*** 

Itulah segelintir contoh konkret dari para Salaf ash-Shaleh, mereka menjadikan cita-cita dalam bentuk yang spesifik. Mengapa? Agar semuanya terukur, agar apa yang dipersiapkan menjadi jelas, mantap kaki dilangkahkan pada suatu tujuan. Semuanya akan menjadi bias jika tujuan terlalu umum.

Ikhwan KAMUPI PNUP
Dokumentasi Pribadi : Akh Nursil Ardiansyah

Jika perlu, cita-cita jangan sekedar tumpukan kata yang terlontar dari lidah. Tuliskan cita-cita di atas kertas atau papan yang besar, misal, “Aku ingin jadi mahasiswa Universitas Indonesia di Fakultas Ekonomi Bisnis tahun ini !", atau "Lolos di Universitas Ummul Quro", atau "Menjadi hafiz yang mutqin 30 juz !". Coretlah satu per satu jika sudah tercapai.

Niatkanlah cita-cita karena Allah, sembari berprasangka baik kepada-Nya. Urusan dunia yang baik akan menjadi pahala jika kita meniatkannya untuk Allah, sebagaimana dalam hadits yang masyhur dari Umar ibn Khattab, “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya”.[3] Maka, jangan takut untuk bermimpi, jangan takut untuk melangkah. Jika bermimpi saja sudah begitu menakutkan, bagaimana mungkin hati digerakkan untuk mencapai mimpi? Suram.

Sepuluh tahun ke depan, kita akan jadi seperti apa?

Dokumentasi Pribadi
Jika nanti berkumpul santai bersama sahabat, cobalah sesekali berceletuk ringan, “Sepuluh tahun ke depan kita akan seperti apa?”. Jawablah dengan lugas lalu saling mendoakan, sebagaimana Urwah bin Zubair mendoakan saudara-saudaranya. Kita tidak tahu doa yang mana dan dari siapa yang Allah jawab. Jika memang baik, Allah akan berikan. Jika itu buruk, semoga Allah beri yang lebih baik sebagai penggantinya.


Semoga Allah merahmati dan mengampuni kita semua.


Jakarta Selatan, 09 Oktober 2017





~Alza
______________________

Referensi:

1. Ali Muhammad Ash-Shallabi, t.t, Perjalanan Hidup Khalifah Yang Agung, Umar bin Abdul Aziz, Darul Haq, Bekasi.

2. -----------, 2012, Urwah bin Zubair. Diperoleh 8 Oktober 2017, dari http://kisahmuslim.com/2792-urwah-bin-zubair.html

3. Adapun teks haditsnya sebagai berikut:

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab bin Nufail bin Abdul ‘Uzza bin Riah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin ‘Adi bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib al-Qurasyi al-’Adawi radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”. (HR. Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Abu Dawud)

Lihat Imam Yahya bin Syaraf An-Nawawi, t.t., Riyadush Shalihin, Darul Haq, Bekasi.