"Tak perlu berlebihan. Yang pertengahan saja. Yang sederhana saja"

Senin, 02 April 2018

Strata Sosial di Tanah Buton: Sebuah Ringkasan dan Pertanyaan

April 02, 2018 Posted by Salam Fadillah Alzah , , , , , , , 2 comments
Sumber: indonesiawonder.com
Strata sosial dalam kehidupan bermasyarakat sejak dahulu seakan menjadi sebuah kebutuhan dengan tujuan atau motif tertentu. Sebagaimana kelompok masyarakat lainnya, Buton pun sebagai sekumpulan masyakat yang berada dalam satu naungan pemerintahan juga memiliki strata sosial atau kasta.

Setelah lama kosong karena dikejar deadline proposal thesis yang mulai menggila, kali ini saya akan membahas tentang kasta di Kesultanan Buton atau Wolio, diringkas dari jurnal Antropologi karya Tony Rudyansjah yang berjudul “Kaomu, Papara, dan Walaka; Suatu Kajian Mengenai Struktur Sosial dan Ideologi Kekuasaan di Kesultanan Wolio”, dan disertai beberapa tambahan dari jurnal dan tulisan lain, serta komentar dan pertanyaan yang sekiranya dapat didiskusikan. Semoga uraian dibawah ini bermanfaat.

***

Strata di Kesultanan Buton terbagi atas tiga; Kaomu, Walaka, dan Papara. Sebagian menyebutkan terdapat satu strata lagi, yakni Batua. Akan tetapi, sebagian berpendapat bahwa Batua dikategorikan ke dalam Papara. Kaomu dan Walaka dikategorikan ke dalam orang Wolio, sementara Papara dan Batua tidak.

Darimana kata Wolio berasal? Beberapa menyebutkan bahwa kata “wolio” berasal dari kata “welia” yang berarti menebas hutan. Seiring perjalanan waktu, telah terjadi Islamisasi hampir diseluruh aspek kehidupan masyarakat Wolio, termasuk nama Wolio yang dikaitkan menjadi kata ‘Waliyullah” (Darmawan:2008). Adapula yang menyebutkan bahwa Wolio berasal dari kata Waliyu, sebuah kerajaan di dalam Kecamatan Lasalimu yang dianggap telah lama ada jauh sebelum kerajaan Wolio lahir.

Wolio berasal dari kata welia, yang berarti menebas hutan.

Seseorang dikategorikan ke dalam Kaomu, Walaka, Papara, atau Batua didasarkan pada kamia, yakni asal usulnya. Kamia berasal dari akar kata “ka” dan “mia”. Ka berarti kekuatan, dan mia berarti manusia. Kaum Kaomu dinisbatkan pada keturunan pendiri Kerajaan Wolio, sementara Walaka adalah pendiri-pendiri komunitas Wolio.

Sumber: indonesia-heritage.net


~Walaka

Walaka adalah keturunan kaum Siolimbona. Siolimbona berakar dari kata “sio” yang berarti sembilan, sementara “limbona” berarti kampung atau pemukiman, mengacu pada sembilan kampung yang terdiri dari Baluwu, Peropa, Gundu-gundu, Barangkatopa, Gama, Siompu, Wandailolo, Rakia, dan Melai, keseluruhannya terletak didalam Benteng Keraton Wolio.

Siolimbona mengacu pada sembilan kampung, yaitu Baluwu, Peropa, Gundu-gundu, Barangkatopa, Gama, Siompu, Wandailolo, Rakia, dan Melai

Kesembilan perkampungan atau pemukiman tersebut adalah perluasan dari empat kampung awal yang disebut Patalimbona, yakni Baluwu, Peropa, Gundu-gundu, dan Barangkatopa. Keempat kampung ini berkaitan dengan empat tokoh terkenal dalam sejarah Wolio yang menjadi pendiri dari komunitas Wolio, yaitu Mia Patamiana (empat manusia), terdiri dari Sipanjonga, Simalui, Sijawangkati, dan Sitamanajo.

Sipanjonga adalah seorang raja dari sebuah daerah yang bernama Liyaa di tanah Melayu. Ia melakukan pelayaran menuju “arah matahari” (berdasarkan “wahyu” dari langit) hingga akhirnya beliau berhenti di Tanah Buton. Sipanjonga sebagai salah satu nenek moyang masyarakat Buton adalah seorang penakluk laut, maka tidak salah jika sifat ini diwariskan ke keturunan-keturunannya, hingga Pelras dalam “The Bugis”, sebagaimana yang dikutip oleh Darmawan (2008), menyebutkan bahwa Penakluk Lautan terdiri dari Bangsa Bajo, Makassar, Mandar, Buton, dan Using (Madura).

Sipanjonga pertama kali menginjakkan kakinya di Kalampa, kemudian berpindah ke tepi sungai Baubau. Ia bermukim dan membangun daerah tepi sungai Baubau menjadi negeri yang besar dan berpengaruh di jazirah nusantara.

Perluasan ini memiliki dua tahap. Tahap Pertama, perjanjian antara Sipanjonga dan negeri Tobe-tobe yang dipimpin Dungku Cangia, seorang panglima dari kekaisaran China, Khulagu Khan. Sipanjonga mengajak Simalui untuk bergabung, menjadi lebih mudah dengan usaha Sipanjonga menikahi saudara perempuan Simalui yang bernama Sabanang. Hasil dari pernikahan tersebut adalah Betoambari.

Tahap pertama, perjanjian Sipanjoga dan Dungku Cangia

Tahap kedua adalah perluasan wilayah yang dilakukan Betoambari dengan menaklukkan Lawele. Selain melalui penaklukkan wilayah, Betoambari memperluas wilayah kekuasaannya juga melalui pernikahan, yakni menikahi putri raja dari negeri Kamaru.

Tahap kedua, penaklukkan Lawele dan pernikahan dengan putri raja negeri Kamaru

~Kaomu

Kaomu sering menonjolkan dirinya sebagai keturunan raja-raja monarki Wolio, dimana Ratu Wa Kaa Kaa adalah nama yang sering disebut sebagai leluhur mereka yang menjadi inti pembeda antara Kaomu dengan yang lain. Wa Kaa Kaa menjadi istimewa karena ia menjadi penengah dan penghubung komunitas-komunitas awal Wolio.

Komunitas Wolio yang pada awalnya terbagi dalam dua bagian; Sipanjonga dan Sijawangkati membentuk satu bagian, dan Simalui bersama Sitamanajo membentuk bagian yang lain. Di masa selanjutnya, paruh pertama dipimpin oleh Betoambari, dan paruh lainnya dipimpin oleh Sangriana. Sibatara dan Wa Kaa Kaa kemudian dinikahkan oleh Betoambari dan Sangriana sebagai suatu pasangan kerajaan yang memimpin Wolio. Oleh karena itu, Wa Kaa Kaa adalah figur ratu yang menjadi penengah dan asbab pemersatu antara kedua paruh kerajaan.

Seseorang dapat diakui sebagai seorang Kaomu ketika ia dapat membuktikan dirinya dengan dua cara. Pertama, apakah ia memiliki hubungan darah atau dapat menulusuri silsilahnya sampai ke Ratu Wa Kaa Kaa dan Sibatara. Oleh karena itu, menghafal nasab dalam ingatan dan tulisan patut dilakukan demi menjaga silsilah dan tidak terjadi aku-mengakui dalam urusan pertalian darah. Salah satu contoh dampaknya adalah dalam urusan pernikahan, dimana seseorang dianjurkan untuk memilih yang sekufu dengannya.

Cara kedua, apakah ia keturunan dari para lakina (raja) Sembilan kerajaan kecil atau Siolipuna dan empat wilayah atau Barata Patapalena yang bergabung ke dalam wilayah Wolio. Dalam perjalanan sejarah, keturunan raja Siolipuna dan raja Barata Patapalena tersebut kemudian dimasukkan ke dalam kategori Kaomu.

Kaomu adalah keturunan Wa Kaa Kaa atau keturunan para raja Siolipuna

Lalu, apa pembeda antara Kaomu dan Walaka? Pembeda antara kedua strata tersebut adalah Kaomu secara khusus adalah keturunan Wa Kaa Kaa, sementara Walaka adalah keturunan dari para pendiri komunitas Wolio (Sipanjonga, Sijawangkati, Simalui, Sitamanajo). Namun, dikarenakan proses perkawinan yang terjadi antara Kaomu dan Walaka, tolak ukur tersebut menjadi tidak efektif. Untuk memperkuat argumentasi, Kaomu menegaskan bahwa dalam darah mereka mengalir darah Nabi Muhammad, dari muballigh Arab, yakni Abdul Wahab dan Syarif Muhammad. Mereka berdua adalah penasehat raja di dalam Kesultanan Wolio.

Disebabkan oleh mengalirnya darah Nabi Muhammad, golongan Kaomu sering tampil sebagai ahli agama. Namun bukan berarti hak untuk mempelajari agama hanya berada ditangan mereka saja. Salah satu bukti adalah "Zawiyah", sebuah tempat untuk mempelajari Islam Tasawuf yang disediakan untuk khalayak umum yang dibangun oleh La Jampi atau Sultan Qoimuddin Tua (kakek dari Sultan Muhammad Idrus Qoimuddin) yang berdiri hingga tahun 1974 (La Niampe:2010). Semoga lembaga pendidikan “legendaris” ini berkenan dihidupkan kembali oleh pemerintah Kota Baubau dan sara Kesultanan Buton.

Tanpa mengurangi rasa hormat, saya menyoal argumentasi yang dibangun oleh Kaomu bahwa di dalam tubuh mereka mengalir darah Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam. Ada beberapa pertanyaan yang mendasar. Pertama, dimana benang merah antara dua muballigh ini dengan keturunan Wa Kaa Kaa? Apakah terjadi perkawinan dan terbukti bahwa darah Kaomu mengalir darah Nabi Muhammad melalui kedua muballigh tersebut? Dalam jurnal tidak disebutkan dengan jelas.

Kedua, siapakah Abdul Wahab dan Syarif Muhammad? Bagaimana pertalian darah mereka dengan Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam? Apakah Syarif Muhammad ini adalah Muhammad Al-Aydrus, saudara dari Musarafatul Izzati al Fikhri alias Wa Kaa Kaa dalam versi asal muasal Ratu Wa Kaa Kaa yang lain? Jika iya, bagaimana mendiskusikan dan mencari titik temu antara kedua versi cerita tersebut? Dalam sepengatahuan saya yang fakir pengetahuan, masih terus mencari informasi dan menggali literatur , setidaknya terdapat dua versi mengenai asal usul Wa Kaa; versi satu Wa Kaa Kaa berasal dari China, versi kedua Wa Kaa Kaa berasal dari Madinah.

Hal ini perlu diperjelas dengan bukti nyata bahwa mereka berdua adalah keturunan Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam., apa marganya, dari mana asalnya, apakah terhubung ke Husain atau Hasan radhiyallahu 'anhum, sebagaimana para habaib yang teroganisir di Jakarta dan daerah lainnya jelas dalam nasabnya tersambung kepada Baginda Nabi, secara khusus melalui Isa Al-Muhajir dari Yaman (Anuz:2016).

Siapakah Abdul Wahab dan Syarif Muhammad? Benarkah mereka keturunan Baginda Nabi Muhammad shollallahu 'alaihi wa sallam?

Kejelasan nasab perlu dipertahankan untuk memperkuat pernyataan bahwa Abdul Wahab dan Syarif Muhammad adalah benar-benar keturunan Baginda Nabi, dimana hal ini berimplikasi pada klaim Kaomu bahwa mereka adalah keturunan Baginda Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam.

~ Papara dan Batua

Dalam konteks hubungan darah terhadap komunitas dan pendiri kerajaan Wolio, Papara dianggap tidak memiliki asal usul. Dalam bahasa lain yang disebutkan dalam Sarana Wolio, Papara disebut sebagai gharib, kata dari bahasa arab yang bermakna asing. Masyarakat papara adalah orang yang berasal dari luar keraton Wolio yang tidak diketahui kamia nya. Adapun Batua, kelompok ini sejatinya masih menjadi bagian dari Papara. Namun, masyarakat Batua adalah masyarakat Papara yang diturunkan derajatnya karena tidak mampu membayar hutang, melanggar adat, dan kesalahan-kesalahan yang dianggap fatal lainnya, serta tawanan perang.

Papara adalah gharib atau orang asing. Batua adalah Papara yang diturunkan derajatnya karena melakukan kesalahan atau tawanan perang.

Mengapa papara menjadi “asing”? Sarana Wolio sejak zaman dahulu dinilai sebagai satu dokumen rahasia yang sangat dijaga oleh penguasa; Kaomu dan Walaka. Sarana Wolio mengatur pemerintahan, termasuk bagaimana mengatur masyarakat Papara. Penulis menilai bahwa tindakan ini merupakan tindakan preventif yang dilakukan kaum penguasa untuk menjaga kestabilan kerajaan dengan menjaga kerahasiaan negara.

Sumber: paketwisatakendari.com


~Sejak kapan pembagian kasta ini?

­Dalam jurnalnya, penulis menyebutkan bahwa pembagian kasta ini belum ada pada masa awal pembentukan komunitas dan kerajaan Wolio. Setidaknya ada dua fase dalam pembagian kasta ini.

Fase pertama, kalangan Walaka menyebutkan bahwa pemisahan tersebut terjadi ketika seorang raja (tidak disebutkan namanya) yang berkuasa memiliki dua orang putra mahkota, yakni La Katuturi dan La Kakaramba. Keduanya memiliki peluang dan kesempatan yang sama untuk menjadi raja sepeninggalan ayahnya. Oleh karena itu, demi menghindari potensi konflik dimasa depan, sang raja mengadakan perjanjian dengan kedua anaknya; La Kakaramba beserta seluruh keturunannya memiliki hak untuk ditunjuk menjadi raja, sedangkan La Katuturi beserta seluruh keturunannya berhak dipilih menjadi bonto dari kesembilan pemukiman, yakni Siolimbona. Oleh karena itu, Walaka adalah pihak yang berhak menentukan siapa yang pantas menjadi pemimpin dengan syarat-syarat tertentu yang dipilih dari kalangan Kaomu, melalui musyawarah mufakat.

Fase pertama, La Kakaramba dan keturunannya menjadi raja, La Katuturi dan keturunannnya menjadi bonto.

Fase kedua, pemisahan dilakukan oleh Dayanu Ikhsanuddin yang membagi golongan Kaomu menjadi tiga cabang. Ia bersama keluarganya masuk ke dalam cabang Tanailandu, Dayanu Ikhsanuddin sebagai sesepuhnya. Keluarga Dayanu Ikhsanuddin yang bernama La Singga Kumbewaha (sapati) beserta seluruh keturunannya termasuk ke dalam cabang Kumbewaha, La Singga sebagai sesepuhnya. Yang terakhir adalah Kenepulu Bula beserta semua keturunanya termasuk ke dalam cabang Tapi-tapi, Kenepulu Bula sebagai sesepuhnya. Karena pembagian ini, tiga jabatan terpenting hanya dapat dijabat oleh ketiga cabang tersebut. Setelah masa pembagian ini, hanya Kaomu yang murni berasal dari dalam wilayah keraton Buton saja yang memiliki hak untuk menduduki tiga jabatan tersebut.

Fase kedua, Dayanu Ikhsanuddin membagi ke dalam tiga; Tanailandu, Kumbawaha, dan Tapi-tapi.

***

Di akhir tulisan ini, saya menarik sebuah kesimpulan sederhana bahwa pembagian strata sosial atau kasta adalah sebuah kebutuhan dalam pemerintahan. Dalam jurnal telah disebutkan bahwa pembagian antara orang Wolio (Kaomu dan Walaka) dan orang asing (Papara dan Batua) adalah tindakan preventif atau pencegahan untuk menjaga kestabilan pemerintahan, dimana salah bentuk penjagaan tersebut adalah dengan menjaga dokumen rahasia. Dalam pandangan saya, pembagian kasta ini lebih condong ke ranah politik atau administrasi publik demi kerapihan pemerintahan, dan tidak dapat dipungkiri bahwa nilai-nilai keagamaan juga mempengaruhinya.

Catatan tambahan yang mengganggu di kepala saya adalah mengapa sebagian masyarakat memberikan stigma negatif terhadap masyarakat Papara dan Batua? Adalah hal lumrah dalam pergaulan sehari-hari ditemukan berbagai ragam bentuk tindakan pengucilan terhadap mereka, baik secara langsung atau tidak. Maka, sebagaimana yang telah saya sebut dalam tulisan sebelumnya, bentuk perlawanan terbaik dan terkini terhadap stigma tersebut yang dapat diusahakan masyarakat Papara dan Batua adalah pendidikan.

Namun, pembaca sekalian jangan menuduh saya melalui tulisan ini dengan mengatakan bahwa saya menyebut Kaomu dan Walaka sebagai manusia-manusia jahat yang menciptakan stigma tersebut. Saya berasumsi bahwa stigma tersebut lahir sebagai dampak alamiah dari kebijakan yang ditetapkan oleh raja-raja yang lalu, menjadi tebal karena sifat khas masyarakat Indonesia sejak dahulu kala yang kental dengan nuansa feudal dan kolektivisme-nya (Ruky:2016).

Bagaimana mungkin dengan lancang saya menghina leluhur sendiri, sementara dalam daging ini dibasahi oleh darah Kaomu? Titik persoalan adalah sikap sebagian masyarakat Kaomu dan Walaka yang memandang rendah Papara dan Batua. Sebagai penutup, cukuplah satu hadits dari Baginda Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang dikutip oleh Imam Muslim dalam Kitab Al Birr wa ash-Shilah wa al-Adab:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُمْ وَ لَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ”Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian”.


Semoga Allah merahmati dan memberi petunjuk kepada kita semua. Semoga Allah merahmati dan mengampuni kaum muslimin dan mu’minin yang telah mendahului kita, terutama para sultan dan jajaran pemerintahannya yang telah berjasa menghadirkan Islam di tanah Buton.


Jakarta, 2 April 2018
Dibuat disela-sela proposal dan paper yang menggila.



~ Alza

------------

Sumber:

1. Tony Rudyansjah. 20xx. Kaomu, Papara, dan Walaka: Satu Kajian mengenai Struktur Sosial dan Ideologi Kekuasaan di Kesultanan Wolio. Jurnal Antropologi No. 52. Universitas Indonesia

2. Achmad S. Ruky. 2016. Menjadi Tenaga Profesional Berkelas Global. Jakarta: Intipesan Pariwara.

3. Fariq Gazim Anuz. 2016. Percikan Hikmah dari Kisah Tabi'in. Pustaka Imam Syafii.

4. La Niampe. 2010. La Ode Muhammad Idrus Qoimuddin; Sastrawan Sufi Ternama di Buton Abad XIX. Jurnal Humaniora Vol. 22, hal. 250-265

5. https://almanhaj.or.id/2976-i-k-h-l-a-s.html

6. Yusran Darmawan. Bab II; Orang Buton dan Imajinasi Sejarah. Thesis. Universitas Indonesia

Selasa, 10 Oktober 2017

Membahasakan Mimpi

Oktober 10, 2017 Posted by Salam Fadillah Alzah , , , 6 comments
Di suatu kesempatan istrahat siang bersama teman-teman kantor, aku termenung memikirkan masa depan yang entah akan seperti apa wujudnya. Pikiran entah kemana di tambah hiruk pikuknya Jakarta “Sang Megapolitan” dengan kebaikan dan kejahatan di kedua matanya.

Aku pun bertanya ke teman-teman untuk bertukar pikiran, “Kira-kira, sepuluh tahun ke depan kita jadi apa?” Teman menjawab santai, “Jadi mutant! Roar! ” Seketika kami tertawa lepas, “Mimpi macam apa itu? Kamu kebanyakan nonton The Avengers,” aku menimpali. “Bisa saja kan? Manusia karet mungkin?” tertawa kami berlanjut karena lelucon aneh itu.

*** 

“Bagaimana kamu membahasakan mimpi?” Pertanyaan ini sesekali aku gulirkan, sekadar diskusi dan saling bertukar gagasan. Sebagian mengatakan, “Aku ingin sukses”, “Aku ingin membahagiakan orang tua”, “Aku ingin berguna bagi agama, bangsa, dan negara.” Sebenarnya tidak ada yang salah dengan cita-cita seperti itu. Namun, apakah kita tidak merasa mimpi seperti itu terlalu umum?

Bagaimana kamu membahasakan mimpi?

Untuk perbandingan, marilah kita menolehkan pandangan kepada para Salaf ash-Shaleh dalam mencita-citakan sesuatu. Pertama, lihatlah Umar bin Abdul Aziz – semoga Allah merahmati beliau –.

Telah masyhur dan mafhum dalam ribuan literatur bahwa Umar bin Abdul Aziz adalah satu khalifah yang hebat dalam kepemimpinannya. Kesejahteraan yang merata di seluruh wilayah dan lapisan masyarakat menjadi ciri khasnya. Apa saja cita-cita beliau? Di masa muda, beliau bercita-cita menikahi Fathimah binti Abdul Malik, wanita jelita, putri Abdul Malik bin Marwan. Terwujud. Beliau kembali bercita-cita dengan sesuatu yang lebih bergengsi; memimpin Madinah. Kembali terwujud.

Hari berganti hari, beliau bercita-cita ingin menjadi khalifah. Beliau kembali mewujudkannya. Selepas mendapatkan itu semua, mimpi beliau kemudian bertransformasi menjadi lebih agung, “Aku ingin masuk surga.”[1] Satu mimpi yang mustahil tercapai, kecuali dengan niat yang bulat dan usaha yang kuat. Apa beliau mewujudkan mimpi terakhirnya? Wallahu a’lam. Semoga Allah mengampuni Umar bin Abdul Aziz dan memasukkan beliau ke dalam surga-Nya.

Selain Umar bin Abdul Aziz, kita juga dapat meneguk hikmah dalam kisah Urwah bin Zubair, Abdullah bin Zubair, Mush’ab bin Zubair, dan Abdul Malik bin Marwan dalam bercita-cita. Semoga Allah merahmati mereka semua.

Suatu waktu di Baitul Haram, mereka berkumpul di sekitar rukun Yamani, membuka percakapan yang sederhana lalu menjadi serius. Abdullah bin Zubair bertutur tegas, “Cita-citaku menguasai seluruh daratan Hijaz dan menjadi khalifahnya.”

Tak mau kalah, Mush’ab bin Zubair berkata, “Keinginanku adalah menguasai dua wiilayah Irak dan tak ada yang mengganggu kekuasaanku.”

Selanjutnya, Abdul Malik bin Marwan berkata, “Bila kalian berdua sudah merasa cukup dengan itu, maka aku tidak akan puas hingga dapat menguasai seluruh dunia dan menjadi khalifah setelah Muawiyah bin Abu Sufyan.”

Bagaimana dengan Urwah bin Zubair? Beliau menjawab dengan kalam yang menyentuh;

“Semoga Allah memberkahi semua cita-cita dari urusan dunia kalian, aku ingin menjadi alim sehingga orang-orang akan belajar dan mengambil ilmu tentang kitab Rabb-nya, sunnah Nabi-Nya dan hukum-hukum agama-Nya dariku, lalu aku berhasil di akhirat dan memasuki surga dengan ridha Allah.”[2] 

Matahari dan bulan berlarian membuka dan menutup hari, waktu menjawab apa yang mereka cita-citakan; Mush’ab bin Zubair menguasai dua wilayah Irak, Abdullah bin Zubair menguasai daratan Hijaz, Abdul Malik bin Marwan menjadi Khalifah, dan Urwah bin Zubair menjadi seorang yang ‘alim pada masanya.

*** 

Itulah segelintir contoh konkret dari para Salaf ash-Shaleh, mereka menjadikan cita-cita dalam bentuk yang spesifik. Mengapa? Agar semuanya terukur, agar apa yang dipersiapkan menjadi jelas, mantap kaki dilangkahkan pada suatu tujuan. Semuanya akan menjadi bias jika tujuan terlalu umum.

Ikhwan KAMUPI PNUP
Dokumentasi Pribadi : Akh Nursil Ardiansyah

Jika perlu, cita-cita jangan sekedar tumpukan kata yang terlontar dari lidah. Tuliskan cita-cita di atas kertas atau papan yang besar, misal, “Aku ingin jadi mahasiswa Universitas Indonesia di Fakultas Ekonomi Bisnis tahun ini !”, atau “Bergabung di SALAM UI, berkumpul dengan orang-orang shalih(ah). Menambah hafalan satu juz per tiga bulan. Menghafal Kitab Arbain An-Nawawiyah dalam enam bulan.” Coretlah satu per satu jika sudah tercapai.

Niatkanlah cita-cita karena Allah, sembari berprasangka baik kepada-Nya. Urusan dunia yang baik akan menjadi pahala jika kita meniatkannya untuk Allah, sebagaimana dalam hadits yang masyhur dari Umar ibn Khattab, “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya”.[3] Maka, jangan takut untuk bermimpi, jangan takut untuk melangkah. Jika bermimpi saja sudah begitu menakutkan, bagaimana mungkin hati digerakkan untuk mencapai mimpi? Suram.

Sepuluh tahun ke depan, kita akan jadi seperti apa?

Dokumentasi Pribadi
Jika nanti berkumpul santai bersama sahabat, cobalah sesekali berceletuk ringan, “Sepuluh tahun ke depan kita akan seperti apa?”. Jawablah dengan lugas lalu saling mendoakan, sebagaimana Urwah bin Zubair mendoakan saudara-saudaranya. Kita tidak tahu doa yang mana dan dari siapa yang Allah jawab. Jika memang baik, Allah akan berikan. Jika itu buruk, semoga Allah beri yang lebih baik sebagai penggantinya.


Semoga Allah merahmati dan mengampuni kita semua.


Jakarta Selatan, 09 Oktober 2017





~Alza
______________________

Referensi:

1. Ali Muhammad Ash-Shallabi, t.t, Perjalanan Hidup Khalifah Yang Agung, Umar bin Abdul Aziz, Darul Haq, Bekasi.

2. -----------, 2012, Urwah bin Zubair. Diperoleh 8 Oktober 2017, dari http://kisahmuslim.com/2792-urwah-bin-zubair.html

3. Adapun teks haditsnya sebagai berikut:

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab bin Nufail bin Abdul ‘Uzza bin Riah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin ‘Adi bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib al-Qurasyi al-’Adawi radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”. (HR. Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Abu Dawud)

Lihat Imam Yahya bin Syaraf An-Nawawi, t.t., Riyadush Shalihin, Darul Haq, Bekasi.

Selasa, 25 Juli 2017

Ketidaktahuan dan Sebuah Profesionalisme

Juli 25, 2017 Posted by Salam Fadillah Alzah , , , No comments
Apakah anda pernah ditanya tentang sesuatu, tetapi anda tidak mengetahui jawabannya? Karena khawatir dengan reputasi diri, anda menjawab sekenanya, sementara anda tidak punya cukup bukti untuk menguatkan statement anda.

Di suatu sesi kuliah, salah satu teman saya bertanya tentang masalah di dunia marketing industri otomotif, lalu meminta tanggapan konstruktif dari beliau. Dosen khidmat mendengarkan lalu terdiam, tertunduk beberapa detik kemudian berkata;

“Saya tidak berani menjawab, saya tidak punya data tentang itu. Saya tidak tahu.”

Saya tersentak dengan jawaban, “Saya tidak tahu”. Sepintas bagi yang tidak mengerti akan memberi komentar, “Dosen payah, segitu saja gak bisa jawab.” Keberanian beliau yang berkata, “saya tidak tahu”, adalah sebuah profesionalitas yang begitu tinggi. Butuh kebesaran jiwa untuk mengakui ketidaktahuan. Padahal, jika seandainya beliau mengeluarkan teori-teori lalu dicocok-cocokkan dengan fakta umum untuk menghukumi masalah khusus, kita bisa saja percaya.

Ada tanggung jawab yang beliau pikul sebagai pendidik. Sekalipun beliau hafal berbagai hukum, teori, hingga asumsi dari penelitian-penelitian dan segudang pengalamannya, beliau tetap memilih tidak menjawab kasus tersebut karena beliau tidak punya data dan informasi.

Dosen yang saya maksud dalam tulisan ini bukanlah dosen biasa. Beliau adalah Prof. Dr. Ferdinand Dehoutman Saragih, MA. Beliau adalah Ketua Dewan Guru Besar di Universitas Indonesia. Selain itu, beliau juga menjadi Guru Besar Luar Biasa di Universitas Brunei Darussalaam dan National University of Singapore.


Karena beliau, sekelas kami menjadi semakin berhati-hati menjawab pertanyaan dari teman-teman. Ada satu kalimat yang sering beliau sampaikan ketika membawakan materi yang berhubungan dengan pengambilan keputusan dan strategi bisnis, terus terngiang-ngiang di kepala kami;

“Don’t explain anything if you don’t have the data !”

Ingatlah baik-baik kawan, teori yang kita pelajari adalah alat untuk membedah. Setiap masalah memiliki alat bedah masing-masing. Jika alat bedah yang digunakan salah, maka yang ditemukan bukanlah solusi, tetapi masalah baru karena kecerobohan dalam memilah yang mana masalah dan yang mana gejala. Dan untuk mengetahui inti permasalahan, data dan informasi menjadi hal terpenting yang dimiliki sebelum membedah masalah dengan teori-teori yang dipaparkan oleh para ahli.

Bagaimana jika kita tidak tahu inti permasalahannya? Besarkanlah hati untuk mengakui ketidaktahuan. Inilah yang perlu dimiliki seorang pendidik. Ketidaktahuan selamanya bukanlah sebuah kebodohan. Ketidaktahuan dapat menjadi tanda profesionalitas yang tinggi. Tidak semua orang memahami itu.

Salam hormat saya untuk anda, Prof. Ferdinand D. Saragih. Anda bukan guru biasa! Semoga bisa bertemu kembali di semester depan.


Jangan tanya saya yang mana karena saya yang mengambil gambar. Haha.


Jakarta, 25 Juli 2017



~Alza

Jumat, 07 Juli 2017

Social and Economic Impact of Indofood

Juli 07, 2017 Posted by Salam Fadillah Alzah , , , , No comments
Profil Indofood

Indofood adalah sebuah perusahaan yang pertama kali berdiri di tahun 1900 dan bergerak dibidang makanan ringan melalui perusahaan patungan dengan Pritolay Netherlands Holding BV, perusahaan afiliasi PepsiCo Inc. (Annual Report; 2016) Perlahan tapi pasti, Indofood berubah menjadi perusahaan raksasa dengan unit-unit bisnisnya, yaitu Consumer Brand Product, Bogasari, Agribisnis, dan Distribusi (Indofood.com ; 2016). Masing-masing bertanggung jawab dalam mata rantai produksi perusahaan.





Visi Indofood adalah Perusahaan Total Food Solutions, dengan misi memberikan solusi atas kebutuhan pangan secara berkelanjutan, senantiasa meningkatkan kompetensi karyawan, proses produksi, dan teknologi kami, memberikan kontribusi bagi kesejahteraan masyarakat dan lingkungan secara berkelanjutan, dan meningkatkan stakeholders value secara berkesinambungan. (indofood.com; 2016). Jika dicermati, visi dan misi Indofood saling terintegrasi dan berkelanjutan. Dalam ranah Corporate Citizenship, tingkatan pertama, yakni kokoh secara ekonomi telah berhasil ditetapkan dan dibuktikan oleh Indofood. Adapun pada tingkat legal dan etis, penulis akan jelas pada bagian selanjutnya.

Kepedulian Terhadap Lingkungan

Lingkungan adalah bagian terpenting dalam kehidupan manusia yang harus dijaga oleh generasi masa kini agar dapat dimanfaatkan oleh generasi-generasi selanjutnya. Namun, adanya tukar menukar kebutuhan antara satu individu dengan individu lain atau antar satu kelompok dengan kelompok yang lain dibeberapa kondisi memaksa lahirnya dampak negatif terhadap manusia dan lingkungan jika tidak dikontrol dengan baik, bertanggung jawab, dan berkesinambungan.


Eksternalitas akan selalu ada dalam tukar menukar kebutuhan

Private sector adalah sektor yang paling banyak memanfaatkan lingkungan untuk pencapaian profit. Jika tidak diatur sedemikian rupa oleh pemerintah dan tidak mendapatkan tekanan dari masyarakat, eksternalitas negatif yang dihasilkan private sector tidak dapat dikendalikan. Dunia internasional kemudian menyadari hal tersebut lalu dibuatlah berbagai standar untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Di Indonesia, Indofood adalah salah satu bisnis yang sangat besar, menguasai hulu hingga hilir bisnis, serta menjadi bisnis yang terkuat dibidangnya. Indofood memiliki grup bisnis yang terdiri dari Bogasari, Indoagri, Produk Konsumen Bermerek, dan Distribusi.

Sebagai salah satu raksasa bisnis di Indonesia, apa saja yang dilakukan Indofood dalam menjaga lingkungan? Indofood telah memiliki manajemen lingkungan yang berkelanjutan. Manajemen lingkungan tersebut diantaranya adalah praktik perkebunan yang berkelanjutan. Indofood berusaha mengurangi pemakaian paraquat secara bertahap, mencari bahan herbisida alternative dan mengambil manfaat dari produk-produk yang mengandung potassium tinggi untuk menggantikan pupuk kimia.

Indofood juga berkontribusi pada lingkungan dengan penanaman pohon yang berkesinambungan dengan bekerja sama dengan WWF (World Wildlife Fund) Indonesia menanam 4000 pohon untuk membantu menyelamatkan daerah aliran sungai yang kritis di daerah Brantas.

Tak hanya itu, Indofood, secara khusus Bogasari, menerapkan penggunaan kemasan yang ramah lingkungan dengan menerapan penggunaan polypropylene degreable 25 kg yang dapat didaur ulang.

Indofood dan grup bisnisnya telah berusaha memperhatikan lingkungan. Keseriusan Indofood dalam memperhatikan lingkungan terbukti dengan sertifikasi yang didapatkan, yaitu:

  1. ISO 14001:2004;
  2. SMK3 (Occupational Health and Safety Management);
  3. HACCP ISO 22000:2005 ;
  4. OHSAS 18001:2007 ;
  5. ISO 17025:2008 ;
  6. SNI;
  7. Halal;
  8. GMP (Good Manufacturing);
  9. ISO 9001:2008 ;
  10. Proper (Performance Rating in Relation to Environmental Management);
  11. AIB International Consolidated Standards for Food Safety.

www.indofood.com

Tak hanya sertifikat-sertifikat diatas, Indofood juga mendapatkan berbagai jenis penghargaan untuk perusahaan dan operation units dari Indofood. Indofood selaku private sector telah berkontribusi positif terhadap lingkungan dan dipercaya oleh pemerintah dan masyarakat, yang dibuktikan melalui berbagai macam penghargaan dan sertifikat dari lembaga pemerintah maupun swasta.

Sektor bisnis di era sekarang tidak dapat bergerak sekeinginannya, yakni demi pencapaian profit yang besar, lingkungan dan masyarakat mendapatkan dampak negatif dari kerakusannya terhadap sumber daya alam.

Untuk apa Indofood memperhatikan lingkungan sekitar dalam produksinya? Jika kita berpikir jangka pendek dan pesimis, mengeluarkan uang untuk lingkungan yang efeknya tidak dapat dilihat secara jelas oleh perusahaan adalah sesuatu yang sia-sia. Butuh metode tertentu untuk mengukur pencapaian-pencapaian yang bersifat intangible ini dan tentu akan mengeluarkan biaya yang lebih. Sudah dimaklumi bahwa dalam kacamata bisnis, salah satu cara untuk memperoleh keuntungan adalah dengan menekan biaya.

Hal yang mafhum dalam ranah bisnis,  salah satu cara meraup keuntungan adalah dengan menekan biaya

Namun, Indofood tetap berusaha dan membuktikan dirinya sebagai peruusahaan yang bertanggung jawab pada lingkungan, dan perlahan akan memberikan dampak positif terhadap Indofood secara langsung ataupun tidak langsung. Setidaknya ada empat poin yang dapat kita lihat sebagai keuntungan yang akan diterima Indofood dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Pertama, kerja sama antar stakeholder yang semakin kuat. Dalam produksinya, private sector tidak dapat berjalan sendiri. Banyak stakeholder lain yang saling terhubung dalam berbagai kepentingan. Perusahaan yang memperhatikan lingkungan akan memberikan reaksi positif dari pemerintah selaku penengah dan pengatur antara private sector dan masyarakat sekitar. Semakin peduli terhadap lingkungan, semakin meningkatkan kepercayaan pemerintah terhadap perusahaan tersebut dalam setiap produksinya. Dengan meningkatnya kepercayaan masyarakat dan pemerintah setempat terhadap perusahaan tersebut juga akan mengurangi konflik yang terjadi antara perusahaan dan masyarakat.


Kepercayaan dapat mengurangi gesekan diantara stakeholder

Kedua, reputasi perusahaan dimata konsumen maupun investor. Perusahaan yang peduli terhadap lingkungan memiiliki nilai positif. Bagi konsumen, perusahaan yang peduli terhadap lingkungan adalah perusahaan yng bertanggung jawab dan dapat dengan bijaksana dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya sekitar, dengan tidak mementingkan diri sendiri. Adapun bagi invetor, perusahaan yang peduli terhadap lingkungan memiliki resiko bisnis yang rendah karena telah dipercaya oleh pemerintah dan masyarakat. Investor tidak ragu ketika menanamkan sahamnya diperusahaan yang ramah lingkungan karena perusahaan tersebut didukung oleh stakeholder lainnya.


Reputasi adalah salah satu aspek terpenting bagi investor

Ketiga, dalam dunia persaingan, setiap perusahaan harus memiliki nilai lebih untuk menjadi keunggulan tersendiri. Jika keunggulan tidak didapatkan dari produk, maka keunggulan dapat dicapai dari bagaimana cara perusahaan tersebut melakukan produksi yang ramah lingkungan.

Setiap perusahaan harus memiliki nilai lebih

Indofood telah berusaha menjaga lingkungan dengan baik. Dengan asumsi dasar, semakin peduli terhadap lingkungan maka meningkat pula kepercayaan para pemangku kepentingan yang memberi dampak positif berupa keuntungan atau profit yang diperoleh Indofood dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Berikut grafik keuangan Indofood dari Annual Report Tahun 2016.

Gambar 1 Grafik Kinerja Keuangan Indofood

Dari grafik tersebut kita dapat melihat fluktuasi yang terjadi dari tahun 2012 ke tahun 2016. Apa yang menjadi pengaruh utama penurunan di tahun 2015 dan peningkatan di tahun 2016? Penulis mencoba mencari penyebab tersebut dari laporan tahunan 2015 dan 2016.

Penurunan pendapatan yang dialami Indofood pada tahun 2015 sejauh pengetahuan penulis terjadi karena fenomena El Nino yang mengganggu dan menggeser waktu tanam (Primadhyta; 2016). Pergeseran waktu hujan sebagai dampak dari El Nino menggeser waktu musim hujan yang otomatis juga akan menggeser waktu tanam. Waktu tanam yang bergeser akan mempengaruhi produktivitas dari setiap mata rantai unit operasi perusahaan. Unit bisnis yang paling terpengaruh oleh fenomena alam ini adalah unit agribisnis Indofood, yakni Indoagri.

Selanjutnya, peningkatan yang terjadi di tahun 2016 disebabkan oleh kondisi perekonomian Indonesia yang menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang positif. Sebagaimana yang disebutkan oleh Manuel V. Pangilinan dalam Annual Report Indofood Tahun 2016 bahwa pertumbuhan produk domestic bruto tahun 2016 mencapai 5.02% yang sedikit lebih baik dari tahun 2015, yakni sebesar 4.88%. Konsumsi rumah tangga didukung oleh tingkat kepercayaan konsumen. Hal ini bersamaan dengan rendahnya tingkat inflasi dan stabilnya nilai rupiah. Tak hanya kondisi perekonomian dalam negeri, kondisi ekonomi dan politik luar negeri juga mempengaruhi pendapatan Indofood. Selain itu, nilai saham Indofood juga cenderung stabil dari tahun ke tahun (Annual Report: 2016).

Lalu dimana hubungan antara perhatian lingkungan dan pengaruhnya terhadap ekonomi Indofood? Setidaknya ada dua analisis yang penulis bangun dari keterbatasan data dan informasi yang penulis himpun.


www.fotolia.com

Pertama, dengan memperhatikan lingkungan, stakeholder telah percaya kepada Indofood sehingga mereka tidak ragu dan tetap menjadi konsumen Indofood. Nilai saham Indofood pun cenderung stabil dari tahun ke tahun.

Kesimpulan yang penulis tarik sesuai dengan hasil penelitian Wayan Sanjaya yang meneliti tentang pengaruh kualitas produk dan reputasi merek terhadap kepuasan dan loyalitas konsumen mie instan, secara khusus PT Indofood di Denpasar. Hasilnya adalah kualitas produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan pelanggan, reputasi merek berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan pelanggan, dan kepuasan pelanggan berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas pelanggan (Sanjaya; 2015). Reputasi merek adalah salah satu bagian terpenting dari Indofood yang selaras dengan apa yang telah dilakukan Indofood dalam menjaga lingkungan dan menghasilkan kepercayaan dari pemerintah maupun masyarakat.

Tidak hanya penelitian Sanjaya, penelitian Zera Harahap, Agus Supandi S, Jopie J. Rotinsulu yang meneliti tentang citra merek, ekuitas merek, dan kualitas pelayanan terhadap loyalitas konsumen pada produk Indomie di Kecamatan Malalayang 1 Barat Manado juga menunjukkan hal yang sama bahwa secara simultan citra merek, ekuitas merek, dan kualitas pelayanan berpengaruh signifikan terhadap loyalitas konsumen (Harahap: 2014).


www.reputationinstitute.com

Kedua, konflik antar stakeholder dapat ditekan karena program Indofood yang berusaha sustain dalam menjaga lingkungan. Dengan rendahnya konflik antara stakeholder, Indofood dapat lebih fokus dalam pencapaian profit tanpa adanya gesekan yang fatal dengan para stakeholder. Sejauh pengamatan penulis, Indofood tidak mengalami masalah dengan stakeholder lainnya, kecuali karena masalah deforestasi dan kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan (Greenpeace; 2016). Masalah ini telah diangkat oleh Greenpeace, akan tetapi tidak menjadi masalah yang fatal yang mengganggu keberlangsungan Indofood dalam mencapai profit agar dapat bertahan dalam persaingan.

Isu kerusakan lingkungan yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan akibat dari produksi Indofood, secara khusus Indoagri yang menjadi unit bisnis Indofood, menjadi perhatian besar dari Greenpeace. Untuk menekan isu tersebut, Indofood terus membuktikan diri dengan pencapaian-pencapaian prestasi yang diberikan oleh lembaga pemerintah hingga swasta. Ini menunjukkan keseriusan Indofood mengikuti alur main pemerintah atau bermain aman dalam ranah legalitas.

Apakah Indofood etis dalam aktivitas bisnisnya? Penulis mengambil sikap, jika dilihat dalam skala umum, Indofood telah cukup etis. Namun, dalam skala khusus, Indofood belum etis dalam produksinya. Kasus deforestasi dan kebakaran hutan di Sumatera disentuh oleh CSR dari Indofood. CSR Indofood lebih banyak dilakukan di wilayah Jawa.

__________________________________
DAFTAR PUSTAKA
Indofood. 2016. Annual Report; Limitless Boundaries, Pursuing Possibilities. PT Indofood Sukses Makmur Tbk. Jakarta.

Indofood. 2015. Annual Report; Embracing Challenges Capturing Opportunities. PT Indofood Sukses Makmur Tbk. Jakarta.

Indofood.com

Greenpeace. 2016. Kejahatan Perdagangan; Biaya Kemanusiaan dan Lingkungan di Rantai Pasok IOI. Greenpeace International. Netherlands.

Harahap, Zera, Agus Supandi S, Jopie J. Rotinsulu. 2014. Citra Merek, Ekuitas Merek, Dan Kualitas Pelayanan Terhadap Loyalitas Konsumen Pada Produk Indomie Dikecamatan Malalayang 1 Barat Manado. Diakses 30 Mei 2017. (https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/emba/article/view/4423).

Primadhyta, Safira. 2015. Dampak El Nino Sudah Diperhitungkan Pemerintah. Dilihat 30 Mei 2017, http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20150807063024-92-70607/dampak-el-nino-sudah-diperhitungkan-pemerintah/.

Sanjaya, Wayan. 2015. Pengaruh Kualitas Produk dan Reputasi Merek terhadap Kepuasan dan Loyalitas Konsumen Mie Instan (PT Indofood CBP Sukses Makmur di Denpasar). Universitas Udayana; Bali.

Mendung di Langit Rumah

Juli 07, 2017 Posted by Salam Fadillah Alzah , , , No comments
Rumah tangga laksana perahu, semua ingin menuju surga-Nya dengan saling bahu membahu. Bila nahkodanya kacau, hancurlah seisi perahu, kecuali orang-orang yang dikehendaki oleh Allah Azza wa Jalla untuk selamat dalam kondisi yang tak menentu.

Sebagaimana yang dilansir di beritasatu.com[1], kenakalan remaja meningkat dari tahun ke tahun. Lelah pula mata melihat di media massa dan elektronik berbagai kekacauan akibat ulah dari remaja-remaja tanggung. Kira-kira apa yang salah dengan remaja masa kini? Kurangnya peran keluarga sepertinya menjadi salah satu penyebab paling vital. Keluargalah yang menjadi tumpuan pertama. Jika keluarga nihil peran, kemana mencari perlindungan dan kenyamanan? Lalu apa esensi sebuah bangunan yang bernama “rumah”? Atau predikat “ayah” dan “ibu” hanya formalitas?


Apakah esensi sebuah bangunan bernama rumah? Atau predikat ayah dan ibu hanya formalitas?

Diantara buku yang saya senangi dan rekomendasikan kepada teman-teman untuk menjawab tantangan yang dihadapi rumah tangga masa kini adalah “Mendung di Langit Rumah” karya Syaikh Nashir bin Sulaiman al-Umar –hafizhahullah-[2].


Syaikh Nashir ibn Sulaiman Al-Umar
Sumber: www.arrahmah.com

Buku ini membahas metode, berbagai macam permasalahan, hingga solusi-solusi kongkrit yang dapat diambil, baik dalam fase awal hingga ketika rumah tangga berada dalam masa-masa kritis. Buku ini di bagi dalam beberapa bab yang terdiri dari "Prinsip-prinsip Pendidikan Anak", "Perhatian Khusus kepada Anak Perempuan", dan "Berbakti kepada Orang Tua".

Bahasa dan penyampaiannya ringan untuk disimak dan dicerna, dengan kisah-kisah yang dialami dan didengarkan oleh Syaikh Nashir Al-Umar, disertai tadabbur ayat dan hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.


***

Apa yang paling menarik bagi saya dalam buku ini? Yang paling menarik ada pada bagian pembahasan tentang doa dan pengaruhnya terhadap masalah rumah tangga yang dihadapi. Doa menjadi menarik karena saya belum menikah (mohon, ini bukan promosi). Menjadi kesempatan diri memperbanyak doa dan memperbaiki diri guna persiapan dunia pernikahan dengan segala lika-likunya.

Mengapa harus mulai memperbanyak doa? Kita tidak tahu doa mana yang Allah kabulkan. Jika memang belum dikabulkan di dunia, mungkin Allah sengaja menjadikan doa kita berupa investasi pahala pemberat timbangan di Hari Perhitungan nanti. Itulah yang paling kita butuhkan.

Mengapa harus mempersiapkan diri sejak dini? Kita tidak bisa serta merta mengatakan, “nantilah saja, toh naluri orang tua akan keluar sendiri ketika berumah tangga.” Berat hati menyepakati statement ini. Sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari –rahimahullah-, “berilmu sebelum berkata dan beramal”[3]. Rumah tangga seperti fase hidup yang baru, butuh persiapan serius untuk menghadapinya. Dan, menjadi hak bagi anak jauh sebelum ia lahir adalah mendapatkan orang tua yang baik, serta shalih dan shalihah. Semoga Allah memberi taufik-Nya kepada kita istiqomah dalam kebaikan.

Hak anak jauh sebelum ia lahir adalah mendapatkan orang tua yang shalih(ah)

Doa benar-benar memberi pengaruh dalam kehidupan kita. Entah dalam jangka pendek atau jangka panjang. Untuk jangka panjang misalnya, Nabi Ibrahim ‘Alaihissalaam yang meminta agar keturunannya menjadi orang-orang yang shalih[4]. Allah kabulkan dengan menjadikan Ishaq dan Ismail ‘Alaihimassalaam, serta banyak keturunan dari Nabi Ishaq adalah para Nabi dan Rasul, dan Rasulullah Muhammad Shollallahu 'Alaihi wa Sallam adalah keturunan Nabi Ismail 'Alaihissalaam, sehingga Ibrahim 'Alaihissalaam menjadi “Bapak Para Nabi”.

Contoh lain seperti dalam surah Al Kahfi [5] yang menuturkan perjalanan Nabi Musa dan Nabi Khidir ‘Alaihimassalaam yang memperbaiki dinding rumah anak yatim. Dalam penggalan ayat tersebut, Allah berfirman;


“… dan ayahnya seorang yang shalih…”


Syaikh Nashir Al-Umar menyebutkan bahwa sebagian ulama menyebutkan makna” ayah” pada ayat tersebut adalah kakek yang ketujuh, sebagian lagi berkata maksud kata “ayah” pada ayat tersebut adalah ayah kandung mereka. Terlepas dari perbedaan ini, kita dapat melihat dan menilai bahwa doa mampu memberi pengaruh untuk orang-orang disekitar kita, entah yang ada sekarang atau yang akan datang disaat kita telah tiada.

Untuk yang belum menikah (nunjuk diri sendiri dan para jomblowan jomblowati), perlu kiranya mempersiapkan diri sedini dan sesegera mungkin. Rumah tangga dengan segala bahagia dan nelangsanya butuh ilmu untuk dihadapi agar mendapatkan ridha-Nya, untuk menyejajarkan langkah menuju jannah-Nya.

Sedari awal berdoa kepada Allah dengan doa yang masyhur dalam surah Al-Furqan ayat 74:



رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا



(Robbanaa hab lanaa min azwajinaa wa dzurriyatinaa qurrota a’yun waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa)


Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.[6]


Untuk yang sudah menikah, buku ini sangat baik untuk dibaca karena pelajarannya yang begitu membumi. Solusi yang diberikan sangat to-the-point dan insyaAllah mudah dipahami. Tidak ada kata terlambat dalam belajar.

Semoga Allah menjadikan keluarga kita menjadi keluarga yang dirindukan, yang disanjung dan dicinta, mengingat sulitnya mewujudkan “Rumahku Surgaku” di zaman yang semakin bobrok ini. Semoga Allah merahmati kita semua.

Wallahu a’lam.
Jakarta, 07 Juli 2017




~Alza
__________________
[1] http://www.beritasatu.com/megapolitan/89874-polda-metro-kenakalan-remaja-meningkat-pesat-perkosaan-menurun.html
[2] Biografi Syaikh Nashir ibn Sulaiman Al-Umar, https://www.arrahmah.com/2013/06/01/mengenal-lebih-dekat-sosok-syaikh-prof-dr-nashir-ibn-sulaiman-al-umar/
[3] Imam Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari yang lebih dengan nama Imam Bukhari dan kitab beliau yang terkenal Shahih Bukhari. Kalimat “Berilmu sebelum berkata dan beramal” menjadi judul di Shahih Bukhari.
[4] Al Baqoroh ayat 124, Allah berfirman:

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, “Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.” Dia (Ibrahim) berkata, “Dan (juga) dari anak cucuku?” Allah berfirman, “(Benar, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zhalim.”
[5] Al-Kahfi ayat 82, Allah berfirman:
“Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang shalih. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Apa yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri. Itulah keterangan perbuatan-perbuatan yang engkau tidak sabar terhadapnya.”
[6] Doa-doa lain dapat dilihat di https://rumaysho.com/1752-doa-meminta-anak-yang-sholeh.html